Langsung ke konten utama

Gorontalo

 Gorontalo dengan segala keunikannya. Istimewa bagiku . Kota kecil yang kemudian mekar menjadi provinsi sendiri dengan perkembangannya di setiap tahun.


Jika Jawa memiliki Jogja sebagai daerah istimewa. Bagiku Sulawesi punya Gorntalonj sebagai daerah istimewa.


Hamparan laut dengan beragam wisata. Pasak Gunung mengelilingi kota. Menjadi pagar disetiap batas wilayah.


Hiruk pikuk kendaraan beroda tiga yang ekonomis dan menjadi andalan.tersaan berkesan sangat bagi setiap pemula yang tidak memiliki hak serupa di daerahnya.


***


"Macam mo kesini terus saya ini. Setiap dua Minggu begitu biar tidak ada urusan" celetuk seorang bapak paruh baya kepada temannya yang sibuk dalam kemudi bentor. 


Saya yang duduk sebagai penumpang pada bagian depan bentor akhirnya mendengar dan spontan membalikkan badan.


"Benar, Pak, benar. Saya juga," lanjutku tanpa kabel tersambung. 


Tetiba batinku berkelabat dalam pembenaran. Ternyata bukan hanya saya yang merasakan hal ini. Saya pun sebenarnya heran dan mencari alasan. Mengapa kota ini menjadi rindu dan nyaman. 


Saya tersenyum lebar dengan menikmati perjalanan bersama bentor. Memperhatikan setiap sudut yang terlewat. Menikmati setiap pemandangan yang terhampar. 


Pasak Gunung menghiasi dalam hijau penyejuk mata. Desiran ombak menghampar dalam biru penghibur diri. Kepadatan kota tanpa sesak dalam  kesederhanaan. Beragam masjid dengan interior unik menarik perhatian.


Sederhana nan bersahaja. Melestarikan budaya penuh kearifan lokal. Nilai agama dijunjung tinggi. Budaya pekerti leluhur diwariskan. Aman tanpa kekhawatiran. Jarang bahkan tidak pernah terdengar perampokan dan perkelahian.

***

"Ayo ke perintis" ajak temanku.


"Gass!" Jawaban yang singkat dan antusias.


Kata perintis menggambarkan soso pejuang di benakku. Bayangan museum peninggalan sejarah berpendar dalam angan. Serta merta ku temukan informasi melalui perangkat cerdasku. Layar sentuh dengan teknologi dalam genggaman.


Gambaran destinasi piknik tepi danau menghancurkan khayalku. Dahiku berkerut seakan meremehkan. Deskripsi biaya mengukir senyum sumringah. Saya dan temanku memutuskan untuk bersiap pada sore hari.


"Maa syaa Allah" ujarku terpesona memandang ke arah danau dari arah jembatan.


"Malam bagus kesini kak" saran temanku memperkenalkan destinasi.


Kami berdua masih di atas motor. Saya mengendalikan stir memasuki area danau perintis.  Pandanganku terbagi dalam menikmati pemandangan dan posisi tempat parkir.


"Bebek kak" ujar seorang adik laki-laki berusia sekitar 10 tahun.


"Apa itu?" Tanyaku heran karna tidak melihat bebek di dekatnya.


"Itu kak eee, naik bebek diatas danau" jelas anti teman perjalananku sambil menunjuk ke arah danau.


"Owh, ayo!" Balasku Penuh semangat.

Sedikit demi sedikit, satu persatu secara bertahap. Menyesuaikan dengan jadwal kapan untuk penyebrangan dan juga hari libur yang ada. Saya menjelajahi beberapa destinasi wisata wilayah Gorontalo.


Mulai dari yang paling viral sampai dengan paling murah. Menyesuaikan jarak yang mampu dan sempat untuk ditempuh. Dalam setiap kunjungan empat hari, harus ada minimal dua sampai tiga destinasi target.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...