Langsung ke konten utama

Jasus

 Yuli seorang santriwati asal Palu Sulawesi Tengah.   Putri sulung dari dua bersaudara. Tanda bertubuh jangkung nan berparas cantik. Biru adalah warna kesukaannya.


Masuk sebagai terdakwa dalam sebuah mahkamah sangatlah mengerikan bagi siapa saja. Begitu pula santri yang jantungnya berdegup kencang setiap selesai shalat Maghrib. Mendengarkan dakwaan atau panggilan nama ke bagian penegak disiplin.


Saya yang tiap mendengar kan tidak ada namaku tertera dalam dakwaan. Sujud syukur sebelum keluar dari masjid. Sebaliknya, jika nama ki masuk dalam dakwaan. Maka sepanjang perjalanan keluar dari masjid akan dipenuhi dzikrullah mantra santri.


Berbeda dengan Yuli. Harinya seakan selalu bahagia. Jarang terdengar namanya terpanggil melalui pelantang suara masjid. Saya yang menjadi salah seorang temannya sungkan bahkan seperti takut untuk mencatatnya. Padahal ia tidak pernah mengancamku sedikit pun.


Namun saya akan tetap mencatatnya jika ia benar-benar melanggar dan tak ada seorangpun yang saya dapatkan atau lihat melanggar pada hari tersebut. Reaksinya heboh ketika menjadi salah satu terdakwa. Menangis tanpa dusta. Menghadap kelemarinya dengan melepaskan sebal karena menjadi salah satu pelanggar.


***


"Awas ya kalau mengulang lagi besok!" Ancam kakak pengurus bagian bahasa dalam bahasa arab.


"Na'am al-ukh" balasku dengan nada rendah sambil menganggukkan kepala.


"Kalau sampai melanggar lagi besok, siap siap pakai jilbab" lanjut kakak tersebut sambil menahan senyum.


"Na'am al-ukh" balasku sambil menunduk.


Cemasku makin bertambah dan sebalku merongrong jiwa.


"Siapa juga bacatat ini ekh" batinku dalam hati.

"Semoga besok tidak masuk lagi namaku" lanjut tangisku masih dalam hati.


Setelah mendengarkan iqob dan nasihat dari pengurus bahasa. Saya bertekad untuk hati-hati dalam setiap hal. Mengurangi hal sia sia dalam berbicara juga hati-hati dalam berucap. 


Juga tak lupa menjadi mata-mata bagi pelanggar bahasa. Menajamkan telinga agar tidak kalah dengan dinding yang bertelinga.


Maghrib pun tiba, seperti biasa jantungku berdebar kencang mendengarkan pengumuman. Terutama saat dakwaan bagian bahasa. Batinku akhirnya menjerit sebab untuk kali kedua namaku masuk kembali. Langkahku gontai menuju mahkamah bahasa. Jilbab hijau terang benderang memenuhi pikiranku.


***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...