Langsung ke konten utama

JKT

 Saya melangkahkan kaki dengan perasaan campur aduk. Ada sedih yang harus berpisah dengan keluarga jauh di ibukota. Ada kenangan rindu yang belum selesai dilepaskan.


Namun waktu menunjukkan bahwa saya harus kembali ke habitat. Melanjutkan setiap hidup untuk tetap bermanfaat hingga waktu ajal menjemput. Ada bakti yang harus ditunaikan kepada orangtua tercinta juga negara.


Pagi yang selalu beda dengan susana daerah asalku. Tempatku lahir juga tinggal. Sebelum shalat shubuh. Kurang lebih empat puluh menit waktunya hampir tiba. Mentari belum waktunya untuk menampakkan dirinya.


Aktifitas tidak pernah berhenti. Meski sebagian kecil masyarakat yang sudah lalu lalang dalam hiruk pikuk kehidupan kota. Saya memilih untuk menaiki bus khusus bandara setelah sebelumnya diarahkan oleh sepupuku. Ia pula yang mengantarkan ku sampai ke dalam bus ini. 


Perasaan rindu kota kelahiran tetaplah terpatri di dalam dada. Saya memilih duduk di kursi bagian depan berseberangan dengan supir. Kaca depan dan samping yang menjadi dinding bus adakah sarana menikmati setiap sudut yang kami lalui. 


Sepekan sangatlah sebentar menghabiskan beberapa waktu di kota ini. Dari kegiatan utama, jalan-jalan hingga silaturahim ke keluarga. Dua putri kecil usia empat dan lima tahun berlarian di memori. Mereka anak-anak yang lucu. Baru kemarin sore saya menghabiskan waktu khusus untuk mereka. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...