Saya melangkahkan kaki dengan perasaan campur aduk. Ada sedih yang harus berpisah dengan keluarga jauh di ibukota. Ada kenangan rindu yang belum selesai dilepaskan.
Namun waktu menunjukkan bahwa saya harus kembali ke habitat. Melanjutkan setiap hidup untuk tetap bermanfaat hingga waktu ajal menjemput. Ada bakti yang harus ditunaikan kepada orangtua tercinta juga negara.
Pagi yang selalu beda dengan susana daerah asalku. Tempatku lahir juga tinggal. Sebelum shalat shubuh. Kurang lebih empat puluh menit waktunya hampir tiba. Mentari belum waktunya untuk menampakkan dirinya.
Aktifitas tidak pernah berhenti. Meski sebagian kecil masyarakat yang sudah lalu lalang dalam hiruk pikuk kehidupan kota. Saya memilih untuk menaiki bus khusus bandara setelah sebelumnya diarahkan oleh sepupuku. Ia pula yang mengantarkan ku sampai ke dalam bus ini.
Perasaan rindu kota kelahiran tetaplah terpatri di dalam dada. Saya memilih duduk di kursi bagian depan berseberangan dengan supir. Kaca depan dan samping yang menjadi dinding bus adakah sarana menikmati setiap sudut yang kami lalui.
Sepekan sangatlah sebentar menghabiskan beberapa waktu di kota ini. Dari kegiatan utama, jalan-jalan hingga silaturahim ke keluarga. Dua putri kecil usia empat dan lima tahun berlarian di memori. Mereka anak-anak yang lucu. Baru kemarin sore saya menghabiskan waktu khusus untuk mereka.
Komentar
Posting Komentar