Langsung ke konten utama

Limit


“sini saya bantu” ujar lelaki berkulit putih sambil mengulurkan tangannya meminta botol air yang kupegang.


“syukron…” jawabku singkat dengan sedikit terkejut.


Lelaki bertubuh sintal tersebut kemudian mendekati teman-teman nya yang sibuk mengisi air masing masing. Saya yang saat itu memang sedang menunggu antrian mengisi air minum sangat senang dan terbantu. Meski sedikit terkejut dikarenakan bantuan seorang santri putra. 


Di perjalanan pulang ke asrama setelah makan siang di ruang makan. Saya membayangkan Kembali kejadian di tempat air minum tadi. Saya ingat bahwa santri tersebut adalah salah satu anggota di komunitas Seni yang saya ikuti. Salah satu dari beberapa komunitas seni di pondok. Saat itu kami yang kurang lebih berjumlah tidak lebih dari sepuluh orang dengan satu orang Musyrif. 


Musyrif adalah salah satu ustad alumni Gontor yang mengabdikan dirinya di pondok. Beliau mengajarkan kami berbagai seni dengan mengaitkan ilmu tauhid di dalamnya. Betapa Allah Maha Indah mencintai keindahan. Selain itu, komentar media tentang dakwah bisa lebih menyenangkan jika disampaikan melalui seni. Berikut beberapa kesimpulan yang saya dapatkan.


Selain itu, saya dan teman sekomunitas juga diajarkan bagaimana cara menulis karikatur, cara melukis menggunakan kuas, cara membuat karya tiga dimenasi, cara sablon dan membuat stiker serta masih banyak lagi yang tidak sempat saya rekam dengan baik. 


Pada awal pembentukan komunitas Limit, kami sebagai anggota yang berjumlah tidak lebih dari sepuluh orang. Dikumpulkan oleh Ustad Ibas setelah shalat ashar di salah satu ruang kelas. Tepatnya di samping ruang guru yang bersebelahan dengan kantor administrasi pondok. 

Dalam beberapa penyampaian beliau, isinya adalah bagaimana meningkatkan ukhuwah dan persaudaraan khususnya dengan anggota internal Limit. Juga beberapa kesempatan ustad Ibas mengajak kami untuk berbuka Bersama saat puasa sunnah. 


Beliau juga berpesan agar anggota Limit senantiasa saling membantu dalam segala hal tanpa melanggar syariat islam. Sebagaimana seorang saudara terhadap saudara lainnya. Dari sini saya menyimpulkan bahwa kejadian siang tadi adalah termasuk penerapan dari nasihat pembina Limit.


***

Semangat membara dengan segala cara memotivasi kami sebagai santrinya untuk mampu melakukan hal yang pernah ia lakukan saat di pondok. Ustad Ibas yang menjadi pembina komunitas Limit juga meyakini hal tersebut dengan seyakin-yakinnya. 

Salah seorang guru seni yang datang mengabdi dari pondok Gontor pusat. Bersama dua orang temannya datang dari pulau Jawa untuk mengabdikan diri di pondok kami dalam kurun waktu satu sampai dua tahun. Meski sebenanrnya beliau juga asli Sulawesi dari provinsi tetangga.

Tiga hari mendekati jadwal puncak pelaksanaan. Kami semakin sibuk dengan persiapan dalam penampilan masing masing. Tepatnya di belakang bangunan perpustakaan berhadapan halaman masjid pondok. Di atas pondasi yang sedikit menanjak dari lapangan olahraga basket. 

Kumpulan kertas pembungkus semen dari sisa pembangunan menyatu dihadapan panitia Panggung Gembira. Sengaja dikumpulkan untuk menjadi salah satu persembahan seni. Background arena utama yang dipadukan dengan beberapa balok sebagai penyanggah. 

Beberapa gulungan kertas yang sengaja berantakan sehingga menggumpal seperti bentuk rak telur. Background yang masih natural dan berwarna cokelat tersebut kemudian diberi warna dengan cat semprot berwaran hitam, putih dan biru. Nampak langit dan awan yang sangat indah dari posisi penonton.

Lampu warna warni menghiasi pinggiran background podium utama. Bentuk persegi panjang tersebut mengalihkan perhatian seluruh santri layaknya layar tancap yang siap disenter sesuatu. Dilengkapi sound system sederhana yang ditugaskan khusu untuk beberapa santri putra. 

Gulungan karpet dibuka dan berbaris memenuhi pijakan yang menjadi lantai panggung tersebut, Fantastic. Ini adalah kali pertama kami membuat panggung tepat di luar ruangan atau outdoor. Seringnya, dengan segala keterbatasan, seni selalu menembus batas dengan beragam solusi kreatifitas.

Saya sebagai santri kelas tiga bersama teman teman dimotivasi untuk membuat suatu gebrakan tersebut. Menjadi panitia pelopor dalam membuat kegiatan perdana menghimpun dan mempersilahkan setiap tampilan karya seni. 

Panggung gembira yang menyematkan harapan agar santri tidak selalu menjadi penonton. Namun dapat memberikan tontonan yang baik dan mendidik. Setiap seni yang dilakukan dipondok bukan hanya  sekedar menjadi ajang refreshing. Bahkan bisa lebih, dari menyalurkan setiap bakat hingga menjadi energi dalam penyaluran aura positif. 

Tidak ada unsur larangan yang membatasi. Dukungan dan arahan para pembina menjadikan sarana kreativitas santri semakin hidup. Suatu usaha dalam mengatur kekompakan dan berkerjasama dengan peran masing-masing untuk persembahan maksimal. 

Dari agenda pagelaran seni ini pula kami sebagai santri diajarkan bahwa sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai Keindahan.  Dengan alat dan perlengkapan seadanya kami sebagai panitia mengupayakan terlaksananya panggung penuh kreasi yang indah. 

Gemerlap seni menghiasi salah satu sudut pondok tepat di malam hari dan harus dibersihkan pula ketika penampilan telah selesai. Harus tampil bersih esok hari seperti tidak terjadi apa-apa pada malam sebelumnya. 

Sorak dan riuh suasana penonton menikmati persembahan karya seni dari santri untuk santri. Diantaranya drama musikalisasi, puisi, nasyid hingga Samrah (kelompok rebana). Kegiatan pergelaran seni tersebut menjadi agenda perdana yang kami laksanakan sebagai santri kelas tiga tepat di tahun 2003. 

Penuh bimbingan oleh ustad Ibas juga beberapa ustad lainnya. Alhamdulillah acara yang kami persiapkan kurang lebih tiga puluh hari tersebut hanya untuk satu malam berhasil terlaksana. Dengan effort yang lumayan menyita perhatian dan menghabiskan hari-hari kami. Namun tidak sedikit pula pelajaran yang dapat kami peroleh baik dalam proses Pendidikan maaupun tamat dari pondok.

***

Notifikasi bertubi-tubi mendorongku untuk segera mengambil handphone yang beristirahat di dalam kamar. Sepertinya ada hal yang sedang ramai dan bahkan bisa jadi pembahasan penting.


Puluhan pesan dalam grup keluarga besar pondok modern berlomba untuk dibaca. Berita duka yang dikirim olah salah satu teman baikku seangkatan.

Salah seorang santri yang dulu menolongku untuk mengisi air minum di dapur umum di tengah antrian para santriwan.


Ustad Ibas berpulang ke Rahmatullah setelah mengalami cedera otak pasca kecelakaan. Memori indah dua puluh tahun silam tiba-tiba berkelebat dalam khayalku. 


Orang baik yang penuh kebaikan menjemput ajalnya dalam keadaan sakit. Jalan syahid dalam kesabaran menjadi tanda ciri akhir yang baik (Husnul khatimah).


Terimakasih sudah pernah memberi warna dalam hidup kami melalui Limit. Dengan segala keterbatasan mengajarkan kami menembus batas tanpa batasan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...