Langsung ke konten utama

Lulus

 Enam puluh hari menulis buku (60HMB). Kelas online yang saya pilih dengan kesadaran penuh. Memilih untuk mengembangkan diri. Menambah wawasan melalui kelas khusus.


Diprakarsai dengan oleh seorang pegiat literasi, tokoh inspiratif, yang gayanya simple juga humble. Tulisannya daging semua. Penuh gizi dan energi positif.


Dengan diskon khusus untuk kelas khusus. Kesempatan yang bagiku tidak kebetulan . Kelas kelas ini sudah sampai di batch sekian dan saya baru mendengarnya. 


Lanjutan dari kelas membaca 200H. saya merasakan dampak yang tidak sedikit. Menjadi lebih bersyukur dan selalu berupaya untuk menghindari hal sia-sia. Menyadari kebodohan dan ketinggalan di usia senja.


Tapi tidak ada kata terlambat bagiku. Menjadi pembelajar sepanjang hayat adalah prinsipku. Bermanfaat dan amal jariyah adalah citaku. Bertemu dengan komunitas penulis juga mimpiku.


Hanya malas dan alasan yang menghambat setiap langkah. Penyesalan pasti datang di belakang. Kapan lagi, kalau tidak sekarang. Dalam proses penuh bimbingan. Belajar bersama pakar penuh pengalaman.


Membaca membuatku semakin tahu. Menulis membuatku semakin paham. Saya akhirnya tahu banyak hal yang belum saya ketahui. Saya menjadi paham bahwa tidak sedikit hal yang harus saya pelajari.


Apapun tantangan yang saya hadapi, pastinya merupakan proses pembelajaran. Jalan yang harus dilewati untuk sampai ke tempat tujuan. Hari ini telah sampai di tengah perjalanan. Sekian langkah yang telah saya pilih untuk satu tujuan.


Tidak ada alasan yang harus menjadi penghambat. Mengapa harus mundur jika tujuan sudah di hadapan. Jika hasil belumlah layak. Biarlah saya belajar dari kesalahan. Karena saya tidak akan pernah tahu tanpa perbaikan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...