Langsung ke konten utama

Merantau 2

Bangunan sederhana layaknya sebuah lembaga pendidikan akhirnya nampak juga setelah menyusuri pinggiran sungai dengan didampingi tour guide lengkap diiringi alunan musik bambu. Kurang lebih seperti pemandangan perumahan BTN di wilayah Palu. Dipenuhi dengan beberapa perempatan. Yang mengukir lipatan simetris di benakku.


Kompleks perumahan yang saling berhadapan dengan dinding campuran semen, batu juga pasir berlapiskan cat membuat nyaman untuk dilihat. Kak Aidil yang menjadi tour guide kami sepanjang perjalan mengajak kami masuk bersama di salah satu rumah. Rumah yang memiliki halaman luas di samping sebuah mushalla warga dengan di kelilingi beberapa pepohonan dan bunga-bunga dalam pot membuat rumah tersebut nampak asri.


Setelah salam dan bersama dengan pemilik rumah. Ka Aidil kemudian membuka percakapan dengan seorang Wanita berjilbab nan bersahaja. Kulit kuning Langsat dan bertubuh semampai nampak ramah menyambut kami dan mempersilahkan masuk untuk duduk di ruang tamu. Kami pun duduk di sepasang kursi jati berhadapan dengan meja yang dipenuhi air suguhan juga camilan.


Tidak menunggu lama, Laki paruh baya dengan kemeja Koko muslim dan peci hitam datang menyambut kami dengan sangat ramah. Setelah bersalaman dan tegur sapa, ka Aidil langsung menyampaikan maksud dan tujuan kami diantarkan ke tempat ini. Sambil mengangguk-angguk, Pria berkharisma nan bercahaya tersebut menunjukkan pemahaman dan keseriusannya dalam menerima kami


Pria bertubuh kekar nan sintal tersebut adalah salah seorang kiyai yang dikenal sebagai pembina dalam program hafal Al-Qur'an di Pondok Tersebut. Anak seorang kiyai dan cucu pendiri pondok ini juga lulusan luar negeri hingga terlihat supel nan cakap dalam bertutur. Dengan berbahasa Indonesia hingga kami paham bagaimana Beliau kemudian menyampaikan pandangan dan nasihat agar meluruskan juga menguatkan terkait niat mulia ke tempat ini.


Setelah mendapatkan restu dari Pak kiyai yang kami sebut dengan Gus, ka Aidil kemudian mengantarkan kami ke pondok puteri. Pondok puteri yang dinamakan dengan asrama "Khodijah." Sebuah perumahan yang tergambar sebagai kos-kosan di palu tempatku lahir. Sedikit berbeda dengan gambaran pondok di benakku.


Sebuah rumah dengan dikelilingi puluhan bilik kamar 3x4 persegi. Juga beberapa bilik toilet yang dilengkapi dengan area tempat mengambil air wudhu. Lantai Dua tingkat dengan tiga lokal membentuk huruf U tepat memenuhi belakang rumah kiyai setempat (ndalem) juga kantor penerimaan tamu dibagian depan. 



Adapun kompleks utama pondok ini terletak di pinggir gang bagian tengah. Mencolok untuk kompleks karena di penuhi dengan beberapa bangunan yang menjulang ke atas dan agak beda dengan banguna n lain. Kayaknya bangunan kampus jika di wilyakanhku . Dengan beberapa tingkat dan ruangan yang lebih dari 10 sebagai pusat pembelajaran .


Meski hanya beberapa lokal bangunan yang tidak lebih dari 10, namun tingkat dan ruangan yang mebuata komplek pondok ini. Padat. Halaman parkir yang temt berada ditengah atau lebih tepatnya halaman untuk bermain dan olahraga dikelilingi oleh bangunan beberapa yang dipakai untuk aktifitas pembelajaran klasikal.


Satu hal yang sangat mencolok dan menarik bagiku yak i seragam atau pakaian di tempat ini jauh dari pengalamanku. Full sarungan, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan susanan pondok salafiyah ini. Benar benar r sesuai dengan artinya yang bisa kita artikan sebagai pesantren kuno bagi kalangan yang menganggap dirinya modern.


Setiap santri yang berada di lingkungan wilayah ini wajib untuk memakai bawahan sarung. Layaknya para pejuang kemerdekaan dari kalangan santri yang pernah saya nonton di TV . Begitidaj tidak terkecuali bagi perempuan. Dengan pakaian atasan yang berbeda meski tidak lepas dari identitas seorang muslimah, namun bawahan tetap harus menggunakan sarung.


Sarung batik tersayang sangat berharga dan modis di tempat ini. Perihal ayu menggambar kan setiap santriwati yang memakainya kebut nan bersahaja membuat ku terbang kesoao sosok Pahlawan tokomh perempuan Indonesia yang digambarkan sebagai mana seorang Raden Ajeng Kartini. Bedanya sanggul diganti dengan jilbab santri.


Saya yang baru beradaptasi kala itu. Menganggap bahwa hal tersebut adalah kebiasaan atau budaya orang Jawa. Ternyata bukan hanya budaya tapi memang tidak dibenarkan untuk memakan i rok pada umumnya selain sarung. Hal ini kemudian menjadi salah satu yangbunik dan menantang bagiku.


Saya membayangkan bagaimana seorang adik laki-laki yang sedang belajar menggunakan sarung secara benar dan rapi ketika menjadi santri. hari ini saya pun harus belajar bagaimana cara menggunakan sarung tersebut sesuai kepatutan. Bukan hanya tentang merapikan jilbab.


Masa masa merapikan jilbab telah lewat, sekarang saat nya untuk merapikan bawahan alias sarung. Maa syaa Allah. 


Dengan menyesuaikan tidak sedikit hal yang harus diadaptasi. Saya bersyukur bisa msampai di tempat ini. Meski sedih layaknya santri baru kembali menyelimuti. Episode enam tahun lalu ketika pertama masuk di pondok modern kembali terulang . Tangisan seorang anak perempuan yang penuh kasih sayang olah keluaorangbtua dan keluarga. Pasti menggoda rindu danair mata.




Hari ini usiaku sudah mewati sweet seventeen bukan lagi tamatan SD. MALU dong jika harus menangis tersedu seperti balita meminta permen. Motivasi pun menguatkan relung jiwa untuk bertekad dan berjuang  di tempat ini. 


Gadis atau atau nan lembut dengan logat jakarta nya menjadi dipertemukan dengan kami dengan alasan bahwa ia adalah adik dari kakatenan kakak kami yang mengantarkan kami ke tempat ini. Ternyata memang ia juga yang bisa paham bahasa kami. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah bisa didampingi oleh kakak berusia lebih tua lima tahun dari kami.


Husnul namanya yangbtidak lari dari artinya. Penuh kebaikan, membuat kami tidak canggung dan mampu beradaptasi. Tantangan yang saatbdi pondok sebelumnya , saya diharamkan untuk menggunakan bahasa daerah, . Hari ini saya wajib belajar bahasa daerah dikarenakan hamseluruh penghuni desa ini berbahasa Jawa. 





Layaknya seorang turis yang bersalatasi dengan bahasa setempat. Kami harus berusaha menahan mkan setiap apa yang kami sampaikan dalam keseharian. Sasemisal saya saat butuh untuk membeli di kopwaring asrama . KA k Husnul harus menerjemahkan apa yang saya maksud ke bahasa Jawa hingga khirnya mereka paham 


Sebagai pembelajaran, haruslah siapa dan melakukan upaya beradaptasi. Hari berganti pekan yang mendorong saya Danu tuk terus dan mampu berbahasa Jawa meski dimudali dengan beberapat kosa kata. Bukan hanya tentang bahasa , . Saya yang berperawakan Sulawesi asli harus belajar lembut baik dalam turu kata maupun akhlak. 


Volume suaraku akhirnya harus sedikit ku kecilkan sesuai nada yang baik. Saya membayangkan diriku seperti seorang gadis Jawa nan lembut nan ayu dengan tarian Jawa yang gemulai atau lebih tepatnya Cah Ayu nag Sulawesi. Heheheheh. Fantastic. Episode ini penuh keunikan dan tantangan. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...