Setelah menyelesaikan pendidikan selama enam tahun di pondok modern. Abahku kemudian menyekolahkan ku di salah satu pondok tepat ya di daerah Jawa Timur. Saya dan temanku syg saat itu juga disetujui oleh orangtuanya akhirnya bersama sama merantau ke wilayah Jawa .
Dengan menggunakan handphone pesawat terbang sampailah kami di Bandara Juanda internasioanl airport. Dengan rasa yang bahagia akhirnya saya merasakan bagaimana bisa naik pesawat dan sampai di tanah Jawa ini.
Dengan bantuan seorang kakak Asala Sulawesi , dimana beliau sudah bertahun tahun merantau di tanah tersebut. Saya dan sahabat ku bernama Janah kemudian diantar kan ke Pondok yang dimaksud
Dengan menggunakan bus antar kabupaten, kami kemudian turun sampai di kabupaten Mojokerto. Ternyata selanjutnya kami mencari angkot jurusan kecamatan hingga sampailah kami di salah satu desa yang lebih ndeso dibandingkan tempatku sebelumnya di Sulawesi.
Sawah yang terhampar sepanjang perjalan di wilayah kecamatan tersebut. Sungai kecil yang memenuhi pinggiran jalan aspal jalan raya. Hingga sampailah kami di depan gang yang saat itu mengarah ke pondok tersebut.
Saya yang sedikit kaget dan takjub melihat Susana ini . Seperti gambaran desa yang hanya saya nonton di televisi. Kami menelusuri beberapa rumah warga yang pada umumnya atau rata rata terbuat dari papan kayu. Dengan sangat sederhana.
Selanjutnya setelah berjalan melewati berapa rumah warga. Kami kemudian menyebrangi sungai atau tepatnya masuk menelusuri jalan setapak atau lebih tepatnya jalan yang sering di gunakan oleh warga sekampung untuk memotong jalan agar lebih dekat ke tempat tujuan ketika berjalan kaki.
Pepohonan bambu yang hampir tidak pernah kutemui di daerah tempat kelahiranku., memenuhi sepanjang jalan tepi sungai yang kami lalui dengan alunan merdu gemerincing gendang yang dihasilkan oleh goyangan bambu tersebut, saya menikmati Susana desa yang sangat takjub bagiku.
Gambaran untuk merantau ke kota lebih besar dengan keramaian dan kepadatan kota yang saya saksikan saat setelah sampai di bandara. Membuyarkan paradigma berpikirku tentang wilayah terpadat ke dua di Indonesia tercinta. Ya desa ini sungguh nyaman dan tenang . Menentramkan hati bagi jiwa jiwa yang tidak terlalu suka dengan keramaian.
Sampai akhirnya saya pun menggerutu dalam hati dengan suasana hiruk pikuk kota. Yang membuatku sumpek dan meringis akan kita dengan jumlah penduduk terbesar ini. Sangat signifikan pula perbedaan yang saya rasakan sampai dengan desa ini.
Hampir setiap orang yang kami temui dalam perjalanan menyusuri desa ini, tergolong Ramah dan santun. Pemandangan sederhana dengan kebaya bagi perempuan juga beberapa pada umumnya menggunakan sepeda lebih tepatnya pemandangan ini sering saya jumpai ketika bertemu dengan orang-orang bersuku jawa.
Dan yang paling menakjubkan ketika sampailah kami di kompleks pondok yang terletak di tengah tengah masyarakat adalah bahasa ibu mereka adalah bahasa Jawa , sedangkan bahasa Indonesia adalah bahasa ketiga bahkan hampir tidak ada yang dapat berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Komentar
Posting Komentar