Gadis tekun yang saya kenal rajin belajar itu akhirnya mau diajak bekerjasama untuk mengikuti lomba muhadatsah. Meski ia merupakan seorang santriwati yang tergolong pendiam dan pemalu. Tapi ia adalah santri yang tekun dan rajin belajar. Hingga ia tidak malu dan berusaha untuk tampil berprestasi guna pembelajaran lebih baik. Namanya Setya, anak ketiga dari empat bersaudara. Meski kami berbeda kelas dan kamar. Namun kami seangkatan dan saling kenall dalam keseharian. Bukan pula teman akrab yang selalu beriringan saat jam makan.
Setelah menyepakati judul atau tema yang akan kami praktekkan. Saya dan Setya mulai latihan menghafal dan memahami makna dialog tersebut agar tidak mudah lupa saat tampil. Semisal ketika tampil dan jika tiba tiba nervous atau diserang demam panggung. Karna lomba ini dilaksanakan bagi putera dan puteri juga dalam tempat yang sama sehingga dilaksanakan di depan masjid tepatnya di halaman basket yang sering menjadi tempat kumpul utama setelah lapangan sepak bola pondok.
Setelah memahami dan menghapal setiap dialog yang ada. Kami menyepakati pula untuk tampil santai dan menggunakan gerakan layaknya praktek bahasa dalam keseharian. Tema yang kami ambil adalah terkait percakapan makan siang tentang pertanyaan dan pembahasan menu siang itu.
Harinya pun tiba, di pagi yang cerah. Telah siap satu podium utama yang disediakan bagi para peserta yang lomba atau tampil tepat di depan para juri yang terdiri dari guru gur u atau asatidz pondok beberapa. Setelah menyaksikan beberapa tampilan dengan tampilan yang sangat sederhana, kami pun menjadi semakin percaya diri dikarenakan telah menyiapkan diri dengan gaya yang sedikit berbeda dengan lainnya.
Saya dan Setya memoles percakapan kami dengan beberapa gerakan sederhana. Seperti gestur menyapa saat bertemu teman untuk bercakap kemudian duduk bersama hingga bangkit kembali untuk berpisah. Dengan hafalan yang mantap karena percaya diri meski harus lebih belajar yang seharusnya dalam pelafalan kami akhirnya bisa menjadi juara pertama dan mendapatkan hadiah menarik.
Bukanlah hadiah ataupun prestise yang menjadi tujuan utama pada hari itu. Tapi pengalaman kekompakan dan keberanian tampil adalah tujuan kami setelah niat untuk terus belajar dan belajar. Seperti kalimat berulang salah satu ustad bagian bahasa yang paling kami hafal adalah "Language is yours not mine. You must realize!". Kalimat yang terus terngiang-ngiang di telingaku, setelah dinasehati karena melanggar bahasa oleh salah satu ustad bagian bahasa pondok. Selain mengerjakan iqob menerjemahkan tugas dari bahasa indonesia ke dalam bahasa inggris.
Komentar
Posting Komentar