Rasa lain di hati bercampur tegang mengiringi hari hari ku akhir akhir ini. Suasana yang dihantui ketegangan ujian nasional menghantarkan diri dan teman teman untuk tidak terlalu banyak canda dan mengalihkan seluruh energi untuk fokus belajar dan berdoa agar diberi kemudahan dan kesuksesan serta kelulusan dalam ujian nasional.
Guna persiapan ujian nasional, hampir setiap sore ba'da shalat ashar saya dan teman teman kelas III dijadwalkan secara bergantian untuk mengikuti pelajaran tambahan layaknya les khusus. Ujian penentuan yang ditentukan dan diseleksi secara nasional mengundang perhatian dan fokus kami sebagai santri kelas III (tiga) TMI (Tarbiyatul Muallimin al-Islamiyah) di pondok modern.
Tahun 2003, saat ini saya duduk di kelas 3 TMI setara 3 MTs adalah periode Ujian Akhir Nasional (UAN) yang merupakan transformasi dari ujian Ebtanas. Tiga mata pelajaran yang diujikan secara nasional dan memiliki standar kelulusan di atas 3,00.
Bagi saya sebagai santri pondok yang didominasi oleh kurikulum pondok, merasakan hal ini lumayan berat. Hingga wajar jika perlu upaya intensive melalui pembelajaran tambahan pada sore hari setelah shalat ashar sampai dengan sebelum shalat Maghrib yang biasanya diisi dengan kegiatan olahraga dan Ekstrakurikuler.
Selain berupaya untuk belajar dengan usaha maksimal. Bagiku kekuatan doa adalah senjata utama bagi seorang muslim khususnya santri yang penuh keyakinan akan hal tersebut. Saya dan teman-teman seangkatan berupaya minta maaf dan memohon do'a kepada hampir setiap penghuni pondok, juga keluarga di rumah.
Selain itu, saya dan santriwati kelas III mengagendakan untuk silaturahmi khusu ke Dapur umum Pondok. Bagi kami, Bude dan Pade adalah termasuk orang-orang yang paling mustajab do'anya. Sepasang suami-istri paruh baya bertugas sebagai tukang masak di pondok. Tidak sedikit nyawa yang tersambung dan menjadi kuat dalam beribadah. Salah satu faktor utamanya adalah makan tiga kali sehari.
Sebulan kemudian, hari pengumuman kelulusan pun tiba. Mudir yang saya kenal sebagai sosok ayahanda memimpin dan mengumumkan langsung perihal kelulusan UAN. Selanjutnya beliau mengawali sambutan dengan beberapa nasihat terkait sikap santri dalam menerima keputusan.
Drama ketegangan menyelimuti setiap hati santri ba'da shalat Maghrib. Khususnya para Santri kelas III TMI. Riuh syukur dan lega secara otomatis menundukkan hati dan kepala saya dan teman-teman untuk bersujud syukur. Berita kelulusan angkatan kami dinyatakan 100%. Suasana mengharu biru menitik rintik di pipi santri.
Selanjutnya Tiga nama tak terduga akhirnya diumumkan sebagai santri dengan nilai tertinggi. Nama-nama yang sedikit asing menempati rangking kelas. Namun kekuatan upaya dan do'a menjawab waktu yang ditetapkan.
***
Sedih yang mendalam kemudian mengaburkan kornea dan memenuhi mataku. Hujan di pipi serta merta diusap oleh tanganku. Berita duka atas meninggalnya tukang masak santri saat di pondok yang kami kenal dengan Bude memenuhi percakapan grup keluarga besar Pondok Modern.
Semata-mata karena dorongan hati, saya dan teman-teman berinisiatif untuk mengantarkan beliau. Jauh dari tempat masing-masing, kami melantunkan Al-Qur'an serta memanjatkan do'a. Penuh harapan dalam munajat semoga tersampaikan melalui para prajurit Pemilik Semesta.
Kami mencintai Bude, sebutan sayang dalam keakraban. Tidak sedikit makanan yang beliau masuk mengenyangkan setiap perut kami selaku santri. Mendidik rasa nikmat dengan penuh syukur. Mengajarkanku bahwa sayur terong bukanlah makanan yang harus dihindari karna nikmatnya ketika menjadi sayur bening menemani nasi putih dalam piringku hingga membuatku lahap.
Kami menyayanginya, wajah penuh keringat melawan panasnya uap nasi panas dalam dandang besar yang harus di salurkan ke keranjang pembagian makanan santri setiap tiga kali makan dalam satu hari. Hari-harinya dipenuhi dengan aktifitas menyiapkan setiap makanan pokok berserta lauk pauk bagi ratusan santri.
Kegiatan pondok sangatlah padat memenuhi aktivitas saya sebagai santri. Saya pun hampir tidak sempat untuk berpikir apakah mereka yang menjadi tukang masak itu selalu sehat. Apakah mereka tidak punya masalah dan selalu bahagia. Makanan masak pada waktunya, tidak mengenal lambat dan lelah.
Bagiku setiap waktu makan adalah makanan siap sedia hingga membuatku sangat lahap dan kenyang. Diantaranya adalah nikmat yang tidak pernah ku dapat dan rasakan saat makan tempe berenang dalam kuah santan yang ku sebut dengan menu tempyu swimming.
Setiap butuh air minum baik panas maupun dingin, hanya satu tempat yang kami tuju sebagai santri. Tidak lain adalah Dapur umum tempat tinggal tukang masak pondok. Setiap hal terkait kebutuhan makanan yang gratis tersedia di dapur umum tersebut.
Tidak jarang pula saat mengambil nasi di sela-sela waktu makan atau istirahat untuk orang sakit, saya menyaksikan sepasang suami-istri tukang masak tersebut sedang membersihkan ruangan dapur di sela-sela proses memasak. Mereka berdua hanya berdua, meski setelah beberapa waktu akhirnya mereka dibantu oleh dua pekerja lainnya dari masyarakat luar sekitar pondok.
Akhirnya para pejuang itu menjemput ajalnya dengan akhir yang baik di tempat yang baik. Kebaikan mereka menjadi amal jariyah yang tak pernah putus dan in syaa Allah diterima di sisi Allah Swt.
Komentar
Posting Komentar