Langsung ke konten utama

Nafilah 4

 Sebagaimana nabi Yakub 'a.s. yang diuji dengan diambil orang orang tersayang yang dimilikinya. Masing masing-masing punya ujian. Nabi Ibrahim a.s. yang diuji untuk meninggalkan orang-orang tercinta. Nabi Ayub a.s yangbdiuji dengan penyakit yang dideritanya. Kira-kira kamu bagian yang mana yaa. 


Allah Maha pencemburu, bahasa cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah tidak dengan memberi dunia. Karena dunia yang fana ini sangat jauh lebih baik dari akhirat yang dijanjikan oleh pemilik semesta.


Begitupula seorang santri yang diuji dengan rindu, sakit, dan segala hal yang membuat nya sakit juga susah. Tidak lain semua menjadi kebaikan baginya. Ditempa untuk lebih kuat dan lebih baik. Digugurkan setiap dosa hingga dikabulkan setiap do'anya.


***


"Pa, so naik SPP. Banyak juga yang mau dibayar kalau menjelang kelas akhir" jelas Nafilah dalam bujuk agar ia dipindahkan.


"Alhamdulillah masih ada kebun dan sapi yang bisa dijual. Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak ku harus sekolah terlebih khususnya pendidikan pondok" tegas ayah menguatkan alasannya untuk tidak memberi celah.


Sesekali setiap orang bisa jadi mengalami kejenuhan dalam hidup. Tinggal bagaimana tergantung diri bagaimana menghadapi masa-masa kritis tersebut. Lingkungan pun bisa dapat sangat berpengaruh. Lebih lagi bagi seorang anak yang masih dalam pengawasan dan tanggung jawab orang tua.


Begitupula yang dirasakan Nafilah. Anak kedua dari tiga perempuan. Masing-masing disekolahkan di pondok pesantren. Dengan ujian cerita yang masing-masing pula. Kakak pertama nya yang hanya bertahan kurang lebih dua tahun hingga tiga kali pindah dengan alasan tidak dapat ditolerir.


Adik bungsunya yang diuji dengan sakit-sakitan membuat hati orangtuanya luluh untuk mengabulkan permintaan pindahnya. Pipi yang semula gemoy berubah drastis dalam tirus. Bolak- balik pondok dan rumah yang membuat nya lebih banyak absen dari proses pembelajaran. Pertahanan pun tidak mencapai waktu Dua tahun.


Lainnya halnya dengan Nafilah. Pipi yang semula berisi dengan ideal membengkak dengan sangat drastis. Diikuti oleh bagian tubuh lainnya yang membuatkan ya jauh dari kategori langsing. Pembawaan yang ceria dan kurang pilah pilih membuatnya lebih supel dan tangguh. Meski sering melanggar baginya adalah sebuah lelucon.


Bunga-bunga kenangan pondok yang kan menjadi memori terindah bagi santri. Penuh tawa saat dijalankan penuh rindu saat dikenang. Tidak ada memori jelek bagi setiap kenangan. Meski tidak indah saat menjalankannya. Nafilah, bukan tidak pernah menangis dan juga sering minta pindah. 


Tapi Allah mencintainya dalam takdir yang dipilih-Nya. Dengan cara dan bahasa cinta-Nya. Sebagaimana kehendak paham agama bagi orang-orang yang diinginkan kebaikan baginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...