Undangan reuni Akbar dalam rangka ulang tahun pondok ke-30. Rindu yang membuncah berdebar dengan seenaknya. Terbayang dua belas tahun silam saat saat menjadi santri dengan segudang aktifitas.
Saya yang rindunya makin bertambah setiap hari. Namun tidak dengan amal juga preasiku. Malu menyusup jiwa , menghantui angan kosong tanpa tujuan. Alasan yang dibuat buat hampir menjerumuskan ku dalam penyesalan.
Rindu yang berat sekan terhalang dengan beban moral yang datang dari dalam diri. Tidak. Belum ada yang dapat kuberikan ke pondok. Malu sama teman-teman. Hidupku belum ada peningkatan. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu saat pertemuan alumni dalam agenda halal bihalal.
Grup keluarga besar pondok ramai terkait info reuni Akbar. Rinfora informasi hingga regutgistrasi membutuhkan konfirmasi. Panitia sibuk menyiapkan segala hal terkait hari H. agenda reuni Akbar perdana yang dilaksanakan tepat pada hari ulang tahun pondok.
Setelah agenda sebelum tertunda oleh beberapa alasan pasca tsunami palu Sulawesi Tengah yang ber. Hal tersebut juga berdampak signifikan terhadap pondok. Dikarenakan lokasi pondok yang masuk dalam zona merah. Titik garis om koro mau lewat. Dan tsunami tanakh atau likuifaksi pun tepat berada di dekat kawasan pondok.
***
"Datang lah nak, Ibu memanggilmu!" Tulis seorangbustad senior dalam grup keluarga besar pondok.
Sekujur badanku didususu disusupi angin segar. Mencari tempat menuju sensitivitas. Nanar nertraku berembun. Dingin rasanya di tengah teriknya matahari.
Kata - kata sederhana yang tidak sesederhana maknanya bagi seorang anak. Bulir bening akhirnya meluncur tak tertolong. Ia ingin jatuh sejatuh-jatuhnya. Ada apa dengan ku. Mengapa harus mencari alasan. Sedangkan seorang ibu tidak butuh alasan.
Kasih sayang ibu tidak pernah punya alasan. Karena pembalasan juga tak penting bagi seorang ibu. Yang ibu tahu, ia punya anak. Apa dan bagaimana pun anaknya, ia tetap mencintaimu. Satu-satunya cinta manusia tertulis. Tulus.
Ibu tidak butuh apapun darimu. Kamu tetaplah anak kecil yang ia kenal. Meski ragamu dan pikranmu tidak sekecil saat bersamanya. Hari ini ibu memanggilmu. Tidak ada hutang yang ia tuntut. Tidak ada harapan janji yang ia tagih. Ia hanya berharap kau anaknya datang.
Hanya itu. Cukup itu. Menemuinya. Sekedar untuk memberi kabar bahwa kau masih mencintainya. Cukup itu. Kehadiranmu adalah konfirmasi cintamu. Kedatanganmu adalah bentuk kasihmu. Meski Ibu semakin tua, meski ibu tidak bisa berbuat apalagi untukmu.
Biarlah do'a dan restu ibu senantiasa mengiringi mu. Dimana dan bagaimana pun keadaanmu selama Allah tetap menjadi tujuanmu. Rasul menjadi teladanmu. Al-Qur'an pedomanmu. serta panca jiwa terpatri di setiap langkahmu.
Ibu disini dan tidak kemana-mana. Silahkan pergi kemana pilihanmu. Tapi ingatlah selalu. Pintu ibu tidak akan pernah tertutup untuk setiap anak-anaknya.
Komentar
Posting Komentar