"Afwan ukhti, klo bisa tolong bantu doa dan sedekah dari situ" pesan singkat dari seorang kenalan di seberang pulau.
"Siap, trimakasih akhi" balasku dengan penuh syukur dan haru.
Ayahku tetiba sakit di ibu kota Jakarta. Asam uratnya kambuh hingga membuatnya sulit untuk berjalan. Seorang pemuda yang saat itu tinggal bersama di salah satu penginapan menolong dan mengantarkan beliau ke rumah keluarga ayahku.
Saya dan keluargaku yang tinggal di Sulawesi sangat khawatir atas kondisi ayahku. Meski penyakit ini sudah sering kambuh. Namun mengingat sulitnya untuk bergerak membuat cemas berlebihan.
***
Tepatnya malam ke tujuh ramadan. Setelah melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Saya membeli beberapa nasi bungkus. Selanjutnya menitipkan makanan tersebut kepada seorang teman pria yang sedang tugas malam.
"Assalamualaikum bro" sapaku dari atas motor dan memintanya untuk berhenti.
Seorang pria bertubuh sintal dengan motor bebek merah kemudian menoleh ke arah ku. Sekilas ia terburu dalam berkendara namun sedikit terkejut. Hingga akhirnya memberhentikan motor bebek tersebut di pinggir jalan menunggu kedatanganku.
Sesudah membalikkan motorku saat menyapa pria tersebut. Saya segera menghampirinya dan memberikan sekantong kresek hitam yang berisi beberapa bungkus makanan.
"Minta tolong lee kasekan siapa saja yang antum dapat mau menerima makanan ini" ujarku memohon tanpa basa basi.
"maksudnya?" tanya pria tersebut dengan heran dalam pandangan tak berkedip.
"Pokonya minta tolong antarkan saja, karena ayahku sakit dan saya harus sedekah" desakku dengan penjelasan tambahan.
"Hah? Oke, baiklah. Pas saya mau ke pos" balas pria tersebut berusaha memahami.
"Makasih banyak bro" ujarku menutup percakapan dan sambil berpisah dengan motor masing-masing.
***
"Alhamdulillah ayah sudah bae-bae, ini di rumah om Latif" ujar ayahku melalui telepon seluler.
Satu percakapan yang membuat hatiku dan keluarga di Sulawesi menjadi lega. Hal ini bukanlah kali pertama. Namun ada hikmah yang ingin saya sampaikan.
Ayahku diserang penyakit asam urat kambuh pada hari ke lima puasa ramadan. Beliau ditolong oleh seorang pemuda penghafal Al-Qur'an. Pemuda tersebut memintaku untuk bersedekah sebagai wasilah untuk ayahku.
Ketika mendapatkan kabar terkait ayahku sakit. Hanya satu harapan ku dan keluarga bagaimana agar beliau bertahan dan segera sembuh dari sakitnya.
Allah Maha mengatur segalanya. Bagaimana saat ayahku sedang diserang penyakit saat kambuh. Kemudian bagaimana beliau ingin ke rumah keluarga untuk beristirahat. Semua Allah tolong dengan cara-Nya.
Saya yang saat itu sedang dalam keterbatasan tidak tahu harus bersedekah apa. Uang lima puluh ribu yang saya punya Allah cukupkan untuk membeli beberapa bungkus nasi.
Saya yakin tidak ada doa yang tertolak apalagi dari anak untuk orangtua. Saya percaya hal tersebut tanpa hijab. Namun tidaklah baik tergesa dalam berdoa.
Sedekah punya pahala tersendiri yang dapat memudahkan hajat dan menolak bala. Bisa jadi doa orang yang menerima menjadi mustajab tanpa mengenal siapa yang memberi.
Sehari setelah malamnya saya mengirim sedekah makanan. Ayahku mulai membaik dan dapat beraktifitas lebih dibanding sebelumnya.
Saya semakin yakin dan percaya, wasilah sedekah nyata dan dahsyat. Mengiringi setiap harapan Membeli setiap kesulitan. Memudahkan setiap hajat.
Komentar
Posting Komentar