Langsung ke konten utama

Setan Usil

Riuh histeris teriakan santri puteri bergemuruh memecah asrama puteri. Bangunan penuh cahaya penerangan lampu tersebut tetap nampak seram bagi sebagian santri. Beberapa guru yang dikenal dengan ustadz dan ustadzah terlihat sibuk mendampingi santri sakit. Kali ini beda harus ditemani dengan seorang ustadz yang sibuk membacakan ayat Al-Qur'an.


Gadis imut berbadan bongsor, dengan mata yang lentik menunjukkan mata yang sayu setelah beberapa kali kerasukan menurut teman teman seluruh penghuni asrama putri. Gadis tersebut menggunakan kerudung shalat untuk melindungi aurat kepalanya dan beberapa bagian tubuhnya meski tetap dengan pakaian tidur yang berlengan panjanga.


Suara motor bebek berwarna biru yang bunyinyabkhas tidak seperti motor lainnya. Motor kelahiran 2011 tersebut menemani langkah seorang guru asrama putri yang dikenal galak nan bijaksana. Setelah mendaki beberapa perbukitan dengan gas yang harus dipenuhi sampai lah Ustadzah zhe di depan asrama. Teriak seseorang murid yang terdengar oleh beberapa temannya.


"Ustadzah datang" teriak Zizah, salah satu penghuni asrama


Ustadzah Zee, wanita kelapala tiga usianya tersebut masuk asrama sembari mengucapkan salam. Seseorang santri mendekati ustadzah tersebut seraya berkata dengan raut panik dan khawatir.


 "ustadzah, Fira kerasukan." Ujar Zizah sambil membantu ustadzah nya membawa beberapa bungkusan.


Ustadzah Zee selakemudianbbergegas memasuki kamar dengan meletakkan beberapa perlengkapannya. Guru asrama tersebut dengan tenang kemudian melangkah mnyusuri lorong asrama. Setelah melewati satu sampai dengan tiga bilik kamar santri, ia melangkah menaiki tangga asrama ke lantai dua. Tepat di pondok pojok arsanma lantai 2 yang disebut dengan kamar 8 Adalah kamar Fira.


"Assalamualaikum warahmatullahi" sapa usadzah szeee.


"Waalaikumussalamwarahmatullah wabarakatuh" balas beberapa suara bersamaan dari dalam kamar.


Kamar yang di penuhi atau dihuni oleh delapan santri tersebut sedikit hening ketika ustadzah Zee masuk. Susana dingin yang didengan stelan 2 1 mendingan mendinginkan ruangan 5 x 4 tersebut. Dengan wangi has parfum remaja menusuk hidung setelah dipadu dengan pengapnya kamar. 


Empat ranjang susun tertata rapi diselingi dengan beberapa lemai ribpakaian juga meja belajar santri. Kamar tehel semakin dingin dengan dihangatkan lima penerang dimasing masing sudut kamar tersebut. Fira nampak lelah dan akhirnya tertidur setelah beberapa saat sebelumnya diceritakan bahasa Isa kesurupan dengan mengamuk dan bercerita aneh. 


Ustadzah Zee yang tidak mendapatkan kejadian tersebut meberusaha menyesuaikan dengan keadaan. Setelah beberapa menit, ustad kemudian berpamitan undur diri setelah melihat kondisi membaik dan tenang. Ustadzah Zee kemudian berterima kasih sambil mengantar ustad tersebut sampai ke pintu asrama putri.


Ustadzah Zee kembali ke kamarnya yang terletak dekatnpintru asma Rama putri tepat dibawah tangga. Kondisi membaik sampai dengan berjalan seperti biasanya. Anak anak kemanli tenang dan bersiap membaca surah al-mulk sebelum tidur atau istirahat malam di masih masing ranjang mereka.


Beberapa kali kejadian berulang namun ustadzah zeee tidak pernah mendapatkannya. Kejadian tersebut selalu terjadi jika ustadzah Zee sedang berada di luar asrama. Entah karena beberapa alasan kuliah juga keperluan pribadi untuk menengok keluarga di rumah orangtuanya. 


Sampai akhirnya telepon genggam ustadzah Zee berdering, dan kemudian nomor Sorang santri putri mdtersebut dijawab setelah ia berhenti sejenak motornya di pinggir jalan. Terdengar riuhbsuara santri dibalik oenerpon tersebut.


"Ustadzah, Fira kemasukan lagi!" Ujar Vany dari telepon seberang 


"Dzikir, bacakan hafalan Al-Qur'an, atau asurat Al-Ikhlas beruang ulang" ujar usdbalas ustadzahnsze dengan nada tegas dan sedikit khawatir.


"Sudah ustadzah" ujar Vany


"Baca terus berulang, ustadzah sudah dekat asrama" pinta ustadzah sambil memastikan telepon tersebut dan segera melanjutkan perjalanan menuju asrama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...