Sore yang sedikit gerah di atas bukit pondok modern. Meski air yang kekeringan, namun aktifitas pondok tetaplah berjalan seperti biasanya. Pelaksanaan shalat jamaah tepat waktu dan akan menghukum para santri yang terlambat atau datang tidak tepat pada waktunya.
Saya dan Zuli yang saat itu sedang menikmati indahnya sore hari dengan pemandangan olahraga Volly puteri . Yang kemudian saya dan Zuli melanjutkan piket halaman . Setelah menyelesaikan tugas piket halaman. Waktu setempat menunjukkan selesainya kegiatan sore. Tepat pada pukul 17.00.
Seluruh santri sibuk dengan kegiatan pribadi masing masing m. Dengan gayung dan ember pribadi yang dilengkapi peralatan mandi, para santri fokus mencari dan mengumpulkan air yang tersisa baik di bak umum maupun bak khusu per kelas.
Saya dan Zuli yang saat itu menjadi orang orang yang beruntung. Merasakan sangat gerah dikarenakan keringat yang membasahi sekujur tubuh pasca piket halaman. Juga memang hormon badanku menunjukkan keringat yang berlebihan.
Setelah mencari air di beberapa tempat, kami tidak menemukan air. Waktu Maghrib pun tiba, dan azan berkumandang. Sedangkan saya dan Zuli masih mencari air. Dan belum mendapatkannya.
Setelah antrian dengan bersama para haidhoh. Teman teman yang sedang berhalangan kami pun akhirnya berbagi air. Tiba tiba pengurus bagian pengajaran yang bertanggung jawab atas setiap disiplin yang berkaitan dengan shalat memanggil saya dan Zuli.
Kami kemudian dinasehati karena tidak melaksanakan shalat Maghrib. Kakak yang dulu seangkatan dengan kami saat masuk sebagai murid baru itu, kini sudah menjadi pengurus kami pada bagian keamanan.pengajaran. kakak lembut namun tegas tersebut menunjukkan kemarahan namun tidak mengerikan karena suaranya sangat lembut juga perangainya
Namun dalam ketegasannya ia berkata:
"Allah Maha Tahu kondisi setiap hamba Nya, Allah Maha melihat" ujar k Fitri dengan nada penuh sedih dan penyesalan.
Ia menyayangkan sangat mengapa ada santri yang lolos dari pantauan hingga tidak melaksanakan shalat dikarenakan dengan alasan air. Padahal semua orang merasakannya dan tidak terkecuali. Juga tidak sedikit opsi yang diberikan atau menjadi bagian dari solusi yang disunnahkan. Semisal tayamum untuk pengganti wudhu.
Kurang lebih 20 menit kami dinasehati dan diceramahi oleh kakak yang lembut tersebut. Kami akhirnya beristighfar sebanyaknya banyaknya dan merenungkan kesalahan terbesar ini. Meninggalkan shalat wajib dengan sengaja adalah dosa besar.
Pemberian iqob apapun itu tidak menjadi beban dan berat saat kami benar benar merasa bersalah terhadap apa yang kami perbuat. Masih ka nasihat ka Fitri menembus fitrah kami hingga hanya penyesalan dan taubat yang memenuhi pikiran kami. KA mi mengaku salah dan sangat salah.
Kondisi kekeringan bukanlah alasan untuk tidak shalat. Jika di pesantren saja kami bisa lupa shalat bagaiman a di luar nati. Hari ini qadarullah menjadi pelajaran berharga. Bahwa Allah maha segalanya dan Maha melihat. Orang yang sedang sakit saja masih wajib untuk melaksanakan. Shalat. Apalagi kami yang sehat wal Afiat.
Orang yang sakit saja jika tidak mampu untuk berwudhu maka tayumamum. Jika tidak mampu berdiri dan duduk maka bisa berbaring. Bahkan hanya dengan isyarat pun bisa dilakukan oleh orang yang sakit.
Tidak sedikit solusi dan pilihan yang diberi sebagai Rukhsoh yang meringankan. Namun Islam itu mudah tapi kadang diremehkan. Karen perihal shalat adalah wajib. Sekarang sejarah perintahnya saja sangat istimewa agr menjadi perhatian bahwa shalat adalah perinh khusus yang kan menjadi amalan pertama yang diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak.
Astagfirullah astagfirullah astagfirullahaladzim. Dsekjal sejak pelanggaran dan nasihat tersebut. Saya bertekad dalam diri untuk tidak akan pernaheninggalkan shalat lagi. Meski sejak awal masuk di pondok ini. Pelaksana shalayty menjadi hal yang terpaksa bagiku. Namun tidak sedikit pula pembentukan pribadi yang saya rasakan.
Mulai dari yang tidak hafal bacaan shalat menjadi lengkap bacaanku. Mulai yang tadi berat untuk shalat wajib menjadi ringan hingga mau melaksanakan shalat Sunnah.
Hari ini tepat di usia ku yang ke tiga puluh tujuh. Saya sangat bersyukur dan menyadari bahwa jika dulu saya tidak pernah latihan untuk melaksanakan diri melakukan shalat, maka saya pastinya tidak akan terbiasa hingga hari ini.
Mulai dari dipaksa dan menjadi biasa. Biasa meski belum sepenuhnya khusyuk tapi selalu berusaha agar lebih baik.
Komentar
Posting Komentar