Langsung ke konten utama

Pejuang Shubuh

 

Pejuang Shubuh

 

“fie, fie, fie…!” sapaku mebangunkan Fifi.

Saya yang duduk disampingnya menyikut badan Fifie yang sedang larut dalam kantuk. Kepala maju mundur menyeimbangkan tubuhnya. Kantuk tak tertahan menghanyutkan tubuh dalam terjaga. Al-Qur’an ditangan jatuh keatas sajadah kemudian membuat Fifie kaget. Namun guncangan tubuh Kembali dengan ritme yang yang berayun pelan seakan mau sujud tapi enggan. Sesekali badannya berputar seperti jarum jam.

 

“qumii, istaiqizi!” bisikkuku sambil menepuk pahanya.

Fifie kemudian membuka matanya dengan sedikit sayup. Terdengar shalawat menggema dari pelantang suara masjid pondok. Fifie kemudian bangun dari tempat duduknya untuk meminta izin ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya dan kemudian berwuduh untuk siap melaksanakan shalat shubuh berjama’ah. Sesampainya di Mushallah Puteri, waktu mendekati iqomah.

Tidak lupa melaksanakan shalat sunnah qabliyah shubuh dua rakaat. Saya senyam-senyum di sampingnya mengingat gaya Fifie yang berjuang melawan kantuknya sebelum ke kamar mandi.

Bukan hanya Fifie yang sering menahan kantuk. Sesekali kami bergantian. Saya juga sering dibangunkan olehnya sebelum sebuah sajadah hinggap di badanku yang dikirim oleh kakak pengurus. 

***

 “man biddakhil” tanya seseortang dari luar sambil menggedor pintu kamar mandi.

"Hmmm," jawabku singkat.

“bisur’ah!” perintahnya dengan tegas.

Saya yang masih kaget dan tertegun karena tidur, segera menyelesaikan keperluan saya dan membersihkan diri. Saya membuka pintu dan kemudian menghadap seorang manajer. Area di sekitar kamar mandi tidak seramai sebelum saya masuk.

“Ta’akhorti yaa ukhtii” seru seorang kakak pengurus yang sedang menunggu giliran setelahku.

Saya tidak tau harus berkata apa dan hanya tersipu dengan gaya canggung. Saya kemudian berlari ke tempat wudhu dikarenakan mendengar vocal song syair abu nawas dari arah Muyshalla Puteri. Seketika kantukku terbang dari mataku. Berlari tergopoh akhirnya saya berhenti tepat dihadapan salah seorang kakak pengurus bagian pengajaran.

Merekam identitasku dengan tatapan mata tanpa kata ke arahku. Seruan iqomah shalat shubuh mengalihkan perhatian kakak tersebut. Tidak terkecuali saya yang segera menyesuaikan pada shaff salat paling belakang.

Setelah mengucapkan salam dalam menyelesaikan shalat shubuh. Deru dzikir jamaah memenuhi ruangan. Pikiranku berkecamuk dalam prasangka. Mencari alasan untuk setiap pertanyyan yang akan dilontarkan layaknya persidangan. Saya yang harus siap dengan konsekuensi yang ada.

Setelah mendengar ceramah panjang kali lebar, saya mendapatkan iqob membersihkan mushallah puteri selama tiga hari. Batinku dalam syukur, menerima iqob penambah pahala yang menguntungkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...