Langsung ke konten utama

Sholeh

 Setahun kemudian setelah mama hampir saja pergi meninggalkan kami. Yang pasti adalah belum ajal. Entah apakah doa anak kami anak anaknya yang berkelahi dengan berlomba dengan takdirnya. Hanya Allah yang Maha segalanya.


Yang pasti, saya adalah orang yang belum siap melepaskan kepergian orangtuaku. Namun hari dimana ayahku ditimpa ujian yang menurutku sangat menyakitkan. Mendapatkan diskriminasi kriminalisasi hukum. Saya menangis dan sejadi jadinya.


Setelah memberhentikan mobil yang keu setor setor. Setir. Saya memberhentikan mobil di pinggir jalan. Setelah menjenguk papaku di penjara. Kakaku yang saat itu juga bersamaku berhenti sejenak. Kami berhenti di pinggir jalan untuk sekedar melepas beban di dada.


"Ya Allah, kasihan papaku ya Allah...Kasihan papaku yaa Allah...." ucapku dalam tangis penuh aduan kepada Yang Maha Kuasa. sejadi-jadinya.


"Sudah de, sabar de, sabar, sudah, istighfar! Istighfar" bujuk kakaku yang juga sedang menangis.


"Astagfirullah, astaghfirullahaladzim" sebut ku sambil menarik napas panjang.


Saya memohon ampun. Saya sadar bahwa setiap ujian yang diberikan tidaklah di luar kemampuan seseorang. Saya harus sadar bahwa daun yang jatuh dari pohonnya pun adalah kehendak Allah Swt. Saya membatin untuk menguatkan dan menenangkan diri.


Kakakku kemudian mengambil alih kemudi. Ia memintaku untuk beristirahat dan gantian mengemudi. Kami akhirnya pulang ke rumah dalam tatapan yang kosong dengan perasaan yang sangat sedih. Ujian ini adalah yang paling berat menurutku.


***


Tiga tahun setelah papa berpulang ke Rahmatullah. Ibu menyusulnya dalam Husnul khotimah. saya yakin dan percaya, sesuai hadits nabi, bahwa siapa yang meninggal dalam keadaan sakit, on syaa Allah dosanya digugurkan.


Hampir setiap pekan saya mengunjungi makam papa dan mama. Mengobati rindu berharap setiap wasilah yang saya lakukan sampai kepada mereka. Tidak ada yang dapat ku perbuat selain berkunjung ke makam mereka untuk meminta ridho. Meski saya tahu bahwa setiap nyawa yang telah meninggal tidak dapat berbuat apa apa.


Hanya amal jariyah yang dimiliki oleh orang meninggal, menjadi bagian yang tidak terputus darinya. Setiap berkunjung ke makam, saya selalu mengingat perihal kematian. Bisa datang kapan saja dan dimana saja. Tidak terkecuali apapun alasannya. 


Saya kemudian berpikir, bahwa orangtua ku termasuk orang yang beruntung memiliki anak yang masih mendoakannya. Meski saya pribadi belum menjadi anak Sholeh yang berbakti sepenuhnya. Tapi saya pun berharap bisa memiliki amal jariyah walau hanya dari seorang anak yang Sholeh. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...