Langsung ke konten utama

Tapa

 Gadis mungil lincah dengan badan ringan. Rambut ikal potongan pendek yang beberapakali harus ditutupi atas permintaan ibunya. Berlari senang dan gembira sambil mengayunkan kaki dan tangannya.


Hari ini dalam usia empat tahun kembali berjalan bersama ibunya menelusuri setiap tempat safar yang sempat dikunjungi. 


Kendaraan beroda tiga itu melaju dengan kecepatan standar yang dimilikinya. Saya dan anakku duduk di tempat penumpang pada umumnya. Bagian depan dengan kapasitas dua sampai tiga orang.


Kami menikmati perjalanan dan memperhatikan hampir setiap sudut. Hamparan sawah menghijau sepanjang jalan. Beberapa pohon bambu tampak mendampingi airan selokan besar disampingnya. Jembatan setapak nampak pada beberapa sisi atas bendungan tersebut.


Suasana desa nyaman dan tentram. Beberapa bangunan unik layaknya peninggalan Belanda nampak dari kejauhan. Desain interior beberapa rumah nampak melestarikan warisan leluhur.


Ukiran dinding yang dilengkapi jendela kayu tanpa kaca. Lebih besar berbaris dengan beberapa ukiran hiasan pada bagian tengah. Pemilihan warna sederhana membuat adem dalam hati.


Paduan cat cokelat keemasan dengan dinding putih membuat rumah tersebut nampak asri. Filosofi teras yang menggambarkan ciri khas. Dengan luas memenuhi bagian depan rumah. Satu set kursi kayu terukir dalam bentuk sofa tanpa tambahan busa. 


Jendela tinggi berbahan kayu terbuka dan berbaris bak bilik loket. Ornamen khas nampak menjadi celah angin dan cahaya. Saya suka dengan bagian ini. Mengingatkan ku dengan beberapa film bersejarah. 

Seseorang datang menymbut kami dari dalam rumah. Dengan sambutan khas seorang sahabat sambil membawakan tas ke dalam kamar. 


"So makan" pertanyaan pertama tanpa basa basi.


"Alhamdulillah sudahlah. Kenapa? Ko masak apakah?" Tanyaku tanpa basa basi pula.


"Hahahahah" kami berdua kemudian sama sama tertawa ringan sambil mengajakku ke kamar untuk istirahat.


Saya langsung berbaring di atas ranjang dengan kasur empuk berlapis sprei coklat. Kamar 3x5 bagian paling depan tepat di dekat ruang tamu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...