Langsung ke konten utama

TTM 2

 Memiliki hubungan spesial semisal bersahabat dengan lawan jenis bisa menjadi motivasi tersendiri yang mendorong untuk menjadi lebih baik. Semisal tidak ingin menjadi jelek di benak Fulanah (pujaan hati) maka si Fulan akan selalu berupaya agar belajar dengan giat dan mampu beradaptasi hingga berprestasi.


Selanjutnya ketika hal tersebut juga mampu mengubah si Fulan yang apatis hingga terdorong untuk menjaga penampilan dan lebih rapi, maka hal ini adalah hal yang baik untuk dilakukan. Bahas Ghazi dengan penuh semangat sebagai salah seorang tim pro dalam agenda Debat terkait virus merah jambu. 


Tim kontra selanjutnya mengaitkan setiap hal negatif dengan beragam argumentasi berdasarkan dalil aqli maupun naqli. Diantaranya adalah menjawab argumen Ghazi dengan membalik pertanyaan kondisi si Fulan ketika tiba masanya sakit hati terhadap Fulanah atau putus hubungan. Tim kontra juga tidak lupa mengaitkan pembahasan  dampak negatif yang bisa berakibat fatal bagi budaya maupun agama.


Suasana debat pun memanas lalu menghampiri klimaks dengan saling menyerang dalam berpendapat. Namun keterbatasan waktu menghentikan para santri yang tengah berdebat dan menghantarkan ke titik evaluasi agar setiap santri mau terus berusaha dan latihan sebagaimana layaknya santri menyampaikan pendapat dengan berani dan berpendirian.


***


Ghazi tengah duduk menunggu kepastian dalam kamarnya dengan menatap layar komputer. Layar berukuran segi empat tersebut menampilkan beberapa lampiran windows sesuai menu pilihan. 

Pria pemalu tersebut kini melanjutkan pengabdiannya sebagai salah seorang pengasuh di bagian administrasi pondok.


Sembari mengetik beberapa tugas administrasi. Bunyi notifikasi yang ditunggu akhirnya masuk ke akun Ghazi. Pesan pernyataan yang dikirimnya kurang lebih empat puluh lima menit lalu terjawab. Nampak sebuah percakapan dengan seorang sahabat spesial baginya.


"Maaf ka, saya belum siap. Sekali lagi maaf, saya ingin kakak tetap seperti sahabat dan seorang kakak bagiku." Pesan Rika tertulis satu jendela layar komputer.


"Baik, tidak apa-apa, trimakasih sudah menjawab."    Balas Ghazi yang menjadi penutup.percakapan hari itu.


Empat tahun persahabatannya dengan Rika. Hubungan ini memiliki arti khusus bagi Ghazi. Ia yang sejak lama punya rasa lebih kepada Rika, akhirnya berani menyatakannya hari ini. Bukan karena takut mengungkapkan. Tapi menjaga sikap sebagai santri dengan penuh tanggung jawab.


Setelah menyelesaikan masa santri dua tahun lalu. Ghazi langsung mengabdikan diri di pondok sejak namanya tercantum sebagai salah seorang wajib mengabdi di pondok. Hari ini, ia benar-benar telah siap untuk melanjutkan hubungan yang serius hingga ke jenjang pernikahan. Namun, kenyataan tidak sesuai harapannya.


Kecewa yang Ghazi rasakan tidak pernah terpikir olehnya. Jawaban Rika membuat Ghazi patah hati hampir putus asa. Seperti tidak ada perempuan lain baginya yang pantas untuk ia dampingi. Ternyata selama ini, Rika hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Tidak lebih dari seorang sahabat.


Seminggu berlalu, Ghazi belum bisa move on dari Rika. Hal ini akhirnya menyadarkannya bahwa bermain hati harus siap sakit hati. Ia bersyukur tidak merasakan patah hati saat masih berstatus santri. Karena situasi ini sangat tidak nyaman. Pastinya mengganggu konsentrasi juga semangat belajar. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...