Setelah menyadari bahwa dompet jatuh, saya kemudian duduk menenangkan diri dan tersenyum dalam hati. Allah merindukan rintihan dan doamu. Allah ingin kau hanya berserah diri kepada-Nya.
Seperti apa yang barusan saya baca di bab bab sebelumnya dalam buku karya ustad Yusuf Mansur. Saya kemudian mengambil buku bersampul biru dengan foto ustad sedang tersenyum.
Mengeluarkan buku tersebut dari dalam tas lalu memandangnya dengan saksama. Foto ustad seperti mengalirkan energi positif seperti apa yang ditulisnya. Saya tersenyum dan percaya bahwa Allah sedang menggugurkan dosaku melalui ujian ini.
"Ya Allah saya lapar" saya membatin dalam hati.
Entah apa yang harus saya perbuat. Tidak satupun orang yang saya kenal di bandara ini. beberapa kenalan yang tinggal di daerah Kalimantan ini juga tidak memungkinkan untuk menolongku.
Perlu waktu dan jarak untuk ditempuh hanya sekedar menolongku yang kelaparan beberapa jam. Kurang lebih tiga jam untuk bersabar dalam hal ini. Allah Maha Tahu atas segala kebutuhanku. Jika memang lapar ini masih bisa ditolerir pasti saya tidak akan mati juga karenanya.
Tidak sedikit orang-orang yang lapar dan belum makan dapat bertahan hidup dengan kondisi tersebut. Apalah saya yang masih tergolong mampu dibanding orang-orang yang susah sebab ekonomi dan penjajahan.
Ini cara Allah Swt agar saya berbenah mengingat yang lebih susah. Hal ini juga membuatku menjadi berdzikir dan hanya meyakini Allah the Only One. Hanya Allah yang dapat menolong ku saat ini. Meski tidak sesulit dan tidak ada apa-apa nya dibanding orang-orang yang telah diuji sebelumku.
Tetiba suara merdu petugas bandar udara internasional Sepinggan Balikpapan mengumumkan penerbangan delay melalu pengeras suara. Entah diruang mana petugas tersebut memakai pengeras suara. Yang pasti setiap penumpang percaya hal tersebut valid.
Seketika raut wajah sebagian besar penumpang dalam ruang tersebut meringis. Saya pun pasti ikut kecewa jika pesawat delay. Tapi kali ini beda. Saya tidak meringis sedikitpun. Senyumku malah merekah selebar-lebarnya membuat mataku berbinar dengan khayalan makanan di benakku.
Ini adalah cara Allah menjawab laparku. Memberikan makanan melalui pembagian bagi penumpang penerbangan delay. Padahal maskapai yang saya tumpangi saat ini adalah kelas ekonomi yang memang tidak menyediakan makanan. Namun akan menghibur penumpang saat penerbangan delay.
"Trimakasih yaa Allah" saya kembali membatin dengan sangat bahagia. Allah Maha Baik dan Maha segalanya. Meski kesulitan ini tidak lebih dari orang lain. Tapi Allah Maha Tahu dan mengabulkan sesuai kebutuhan.
Komentar
Posting Komentar