Langsung ke konten utama

Dompet

 Jaket organisasi menjadi outfit andalan lapisan luar. Mengamankan . Tidak sekedar mengamankan tubuh dari dinginnya udara pesawat. Jaket multifungsi ini juga membantu jilbabku agar aman dari geseran yang tidak diinginkan.


Entah terbang karena angin atau gerakan tambahan yang kulakukan dengan sengaja. Yang pasti aurat mahkota di atas kepala sering tanpa sengaja harus diwaspadai. Khususnya dalam perjalanan yang selalu berinteraksi tanpa mahrom.


Tipikal mudah tidur membuatku sangat nyaman menikmati setiap perjalanan. Padahal jika dipikir-pikir bisa jadi riskan untuk perjalanan seorang diri. Namun hal tersebut jauh dari pikiranku. 


Bagiku setiap hal yang terjadi atas kehendak Allah Swt. Selama niat kita baik, dan selalu berupaya untuk berbuat baik. Hal baik pula yang akan selalu terjadi. Apapun itu dengan setiap hikmah yang bisa jadi pelajaran.


Nomor kursi tepat berbatasan jendela pesawat adalah seat favoritku. Semakin nyaman perjalanan ini. Perjalanan dari rumah ke bandara hingga waktu menunggu pemberangkatan akhirnya terbayar. Rejeki check ini online dengan pilihan yang tepat.


Saya segera meletakkan ranselku di kabin atas. Menikmati rangkaian proses take off. Selanjutnya bersiap membayar lelahku dengan istirahat yang nyaman. Setelah merapikan KTP dan sisa kembalian di kantong rokku ke dalam dompetku. Saya mengatur sandaran kursi. Hawa dingin pesawat membuatku tidak mampu menahan rasa kantukku. 


***


Notifikasi pesawat berbunyi dilanjutkan suara merdu pramugari bahwa pesawat yang saya tumpangi akan segera landing. Mendarat di bandar udara l internasional Sepinggan Balikpapan. Saya yang baru saja kaget dari mimpi indah, harus bangun menyadarkan diri.


Hentakan gerak para penumpang menarik tubuh untuk direnggangkan. Saya menghabiskan sisa air mineral botol yang siap untuk dibuang. Saya juga memeriksa sekitar untuk memastikan barang pribadi tidak tertinggal.


Pilihan penerbangan domestik dengan kelas ekonomi membuatku harus transit. Melakukan rangkaian adminstrasi pergantian pesawat. Saya kemudian sibuk memperhatikan setiap petunjuk untuk penerbangan selanjutnya.


Setelah mendapatkan tiket yang valid serta ruang tunggu yang tepat. Saya merasa aman dan bersiap untuk menghibur diri dengan makan. Makan roti kesukaan terbayang dibenak. Instruksi otak melangkahkan kaki mencari kedai dimaksud.


Saya merogoh saku jaket, mencari dompet yang menyimpan beberapa kartu pribadi dan sisa uangku. Pikiranku berganti memori penerbangan pagi tadi. Saya ingat mendekap dompet mungil cokelat tersebut dalam saku jaket samping kanan.


Saya kemudian mencari tempat duduk yang nyaman di ruang tunggu yang tertera di boarding pass. Isi tas ransel dark brown akhirnya ku telisik satu persatu. Mencari penyambung hidup dalam perjalanan. Harapan pupus tanpa dompet disisi.


Saya ingat, semua uang yang tersisa di setiap sisi kumasukkan semua ke dalam dompet. Agar lebih rapih tersimpan dalam satu tempat. Saya tersenyum dalam rasa sedih dan bahagia.


Allah ingin kamu selalu mengingat-Nya. Allah maha mengetahui setiap kondisimu. Allah menguji setiap hamba yang dicintai-Nya. Seketika beberapa kalimat yang tertulis di buku ustad Yusuf memenuhi ingatanku.


Saya membatin dalam hati. Yaa Allah, kayaknya dompetku jatuh di pesawat. astagfirullah. Ya Allah ampuni dosa-dosaku. Bimbing dalam setiap langkahku. Tidak ada yang saya punya kecuali Allah Tuhanku.


Kartu identitas yang saya miliki terbang bersama anginNya. KTP, SIM, ATM juga kartu identitas lainnya. Tidak ada hal yang jadi solusi untuk kulakukan. Hanya ikhlas yang harus kulakukan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...