"Alhamdulillah tiket dan visa sudah diissued" sepenggal pesan mengejutkan masuk ke hpku.
"Trimakasih bu, in syaa Allah segera harus diselesaikan karena sudah diissued" jawabku dengan sedikit ragu namun penuh harap.
"Yaa Allah.... Engkau Maha segalanya" gumamku dalam hati.
Dua. Pekan depan adalah jadwal keberangkatan jamaah umroh. Setelah beberapa bulan menabung dengan ikhtiar dalam upaya dan do'a. Qadarullah belum pula terpenuhi hingga hari ini. Dua puluh satu juta bukanlah jumlah sedikit bagi seorang fakir seperti saya yang hanya bermodalkan nekat.
Bingung, darimana harus kucari solusi atas permasalahan ini. Gaji bulanan ku pun hampir habis tersisa sejuta dari tiga juta / bulan. Ongkos akomodasi tempat tugasku ke rumah menghabiskan kurang lebih sejuta. Sejuta lainnya kupakai untuk menutup lubang dalam hutang.
"Yaa Allah... allahumma sahhil umuuronaa wa umuurol muslimin" doaku dalam batin.
Tidak, saya tidak boleh menyerah. Saya teringat penggalan ayat dalam surah al-insyirah. Inna ma'al 'usri yusro. Sesungguhnya kesulitan bersama kemudahan. Bersamaan ya, bukan antrian. Pasti ada solusi.
"Yaa Allah.... Apakah Engkau belum meridhoiku karena dosa-dosaku" batinku menjerit dalam kebodohan.
Saya berbenah memperbaharui niat hanya karena Allah Swt. Membersihkan setiap rasa yang mengganggu kemurnian jiwa. Menyadari setiap hal adalah perkara ibadah. Ikhtiar maksimal, berjuang hingga Allah meridhoi.
Seorang sahabat tetiba bertanya kepastian jadwal keberangkatan ku. Saya menjawab dengan sedikit ragu namun selalu berusaha optimis. Dalam guyon ku minta emasnya. Seketika ia sodorkan pula bungkusan kecil berisi kepingan emas 5 gram.
"Ini, silahkan" ujar anak sulung dua bersaudara yang kukenal sejak usia tiga belas tahun tanpa basa basi dan serius.
Komentar
Posting Komentar