Langsung ke konten utama

ODGJ

 Orang gila itu dipasung dengan sangat miris terlihat. Saya yang saat itu hanya bisa mengunjungi tanpa kemampuan untuk memintanya dilepaskan. Karena pihak keluarga mengaku sangat kesulitan mengatasi ODGJ tersebut jika waktu mengamuknya tiba.



Tepat tahun 2016 saya tugas di wilayah kabupaten Banggai provinsi Sulawesi Tengah. Tepatnya bekerjasama dengan Pihak Dinas Sosial dalam hal penanganan anak dibawah umur yang memiliki masaha sosial. 


Dengan sengaja bersama pihak Dinas sosial yang sedang searah dalam penanganan anak korban kekerasan seksual. Saya kemudian ikut juga dengan teman teman untuk visitasi ODGJ. miris dan takut berkecamuk dalam jiwa.


Hanya hal terkait solusi untuk diminta untuk dibawa ke Rumah Sakit jiwa menjadi alasan kami untuk disampaikan. Pihak keluarga ODGJ kemudian menyampaikan perihal kendala biaya akomodasi untuk ke RSJ yang terletak di ibukota provinsi berjarak kurang lebih 457 km dari desa mereka.


Saya yang saat itu merasa buntu dan menerawang mencari solusi atas masalah sosial ini hanya bisa bersyukur hidup lebih baik dari ODGJ dan keluarga ini. Meski tak dapat dipungkiri, bisa jadi mereka lebih bersih dalam perihal dosa. Bilkhusus ODGJ yang diangkat atau dilepaskan dari catatan dosa oleh malaikat.


***


Tahun 2025 saya secara sengaja menyentuh telepon genggam pintar untuk sekedar berselancar di dunia maya. Kurang lebih sembilan tahun setelah saya mengabdikan diri dalam kegiatan pekerjaan sosial. Saya akhirnya kembali mengabdikan diri ke dalam dunia pendidikan.


Ada waktu lowong untuk menghibur diri mencari inspirasi. Hingga akhirnya dipertemukan untuk menyaksikan seorang relawan sekaligus konten kreator yang tulus dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Saya kaget dan terharu, ada kelompok masyarakat yang mewakili kami selaku manusia di muka bumi ini.


Dengan kemampuan dan profesionalitas yang ia miliki menolong setiap ODGJ untuk dapat kembali  normal. Tidak sedikit yang secara khusus untuk diprioritaskan ditolong adalah mereka ODGJ yang terpasung. Ego namanya namun tidak egois sifatnya.


Bersama beberapa temannya berjuang dalam membantu para ODGJ. Mereka memandikan para ODGJ yang dikenal dengan tidak normal dalam hal kebersihan. Mereka selalu berupaya melakukan hal ini dalam pertolongan pertama.


Tidak ada ragu dan rasa jijik terlihat. Mereka merapikan rambut dan membersihkan setiap bagian tubuh sesuai norma budaya Indonesia. Murni dan tulus menolong tanpa pamrih. Saya sangat bangga dan terharu dengan Orang Indonesia ini. 


Masih ada orang Indonesia yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Rela mengorbankan harta dan waktu untuk sekedar menolong orang-orang yang dianggap sampah masyarakat. Baginya ODGJ adalah orang yang sakit dan butuh pertolongan juga perhatian. Bukan sampah masyarakat.


Dalam beberapa kesempatan yang saya nonton, bang Ego selalu mengingatkan kami selaku masyarakat bahwa ODGJ bukanlah sampah masyarakat. Namun mereka adalah orang-orang yang memang harus ditolong dan diperhatikan.


Bagiku bang Ego adalah seorang pekerja sosial yang memiliki kemapuan terlatih dalam bidang penanganan Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). menolong setiap ODGJ dengan beragam latar belakang juga level tingkat kewarasan.


Trimakasih sudah mewakili kami. Trimakasih sudah mau berbuat. Trimakasih sudah mau berkorban untuk segala hal. Kami belum mampu berbuat dan tulus seperti kalian bang Ego dan crew. Sekali lagi terimakasih banyak. Semoga hajat untuk berbuat lebih banyak dengan membangun yayasan khusu segera terwujud segera.


Kami para penonton juga penggemar berusaha untuk membantu dalam mendukung setiap kegiatan dan langkah bang Ego juga crew. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...