Langsung ke konten utama

Peksos

 Pekerjaan yang jarang dikenal namun . Sebenarnya pekerjaan ini sangat dikenal oleh orang orang yang berwawasan luas dan peduli sosial. 


Dengan prinsip membantu makluk sosial untuk dapat bersosialisasi. Mengembalikan keberfungsian sosial seseorang yang mengalami masalah sosial. Kira-kira seperti itulah kesimpulannya.


Saya yang lahir dari kehidupan rata-rata masih sangat awam dengan profesi ini. Tepat saat menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren saya melanjutkan kuliah. Dengan banyak belajar, haus pengetahuan, bertemu dengan komunitas peduli sosial. 


Rasa dan sikap sosial ku sebenarnya juga telah dibentuk dari internal keluarga. Ayahku yang memiliki jiwa sosial yang tinggi akhirnya mendirikan suatu yayasan. Berangkat dari latar belakang dan kegigihan dalam setiap cita. 


Ingin menjadi manusia yang bermanfaat dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya. Beliau membangun lembaga khusus diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi bawah. Kategori fakir miskin yang ingin berjuang merubah nasib untuk lebih baik.


Seiring berjalannya waktu, saya sebagai anak yang dibentuk dengan kasih sayang yang cukup. Menjadi taat dan ingin berbakti kepada orangtua tercinta. Membantu dalam setiap hal, terutama membangun peradaban melalui yayasan ayahku.


Takdir akhirnya mempertemukan ku dengan suatu profesi pekerja sosial. Tidak sedikit pengalaman dan wawasan yang berkesan di setiap langkah kegiatan. 


Saya yang diberi kesempatan untuk berbuat lebih. Menopang dalam hal membantu perekonomian keluarga dalam segala keterbatasan. Bagiku lowongan pekerjaan yang diberikan oleh kementerian sosial adalah rejeki spesial.


Keluarga pun merestui keputusan yang kuambil. Dengan niat belajar dan upaya untuk hidup lebih baik. Saya bergabung dengan komunitas pekerja sosial.


Bukan sekedar nama, ternyata pekerja sosial adalah suatu profesi layaknya dokter di bidang kesehatan dan guru di bidang pendidikan. Tahun 2015 menjadi awal pengalamanku. Profesi ini belum diresmikan dalam Republik Indonesia.


Saya yang berlatar belakang pendidikan bahasa, belumlah layak untuk menjadi pekerja sosial. Namun pendidikan dan pelatihan serta bimbingan dalam pekerjaan membuatku sedikit demi sedikit belajar adaptasi dalam tanggung jawab.


Saya berkerja sebagai pendamping dalam setiap program kementrian sosial khusus di bidang rehabilitasi sosial anak. Bekerjasama dengan para ahli bidang kesejahteraan sosial. Alumni sekolah tinggi kesejahteraan sosial. Mencetak para pekerja sosial yang cakap dan tangkap dalam setiap persoalan sosial.


Sikap profesional yang mereka pegang sangat berkesan. Pelajaran berharga bagiku untuk lebih bertanggung jawab dalam suatu pekerjaan. Gaya tulus dan rendah hati mengajarkanku lebih menghargai hidup. Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan takdir ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...