Langsung ke konten utama

ramadan

 

Satu bulan yang telah dipilih oleh yang Maha penyayang sebagai bulan yang penuh ampunan. Berapa dan bagaimana pun dosa serorang hamba ketika mendapatkan ampunan niscaya akan dihapuskan seadil-adilnya. Bahkan bisa jadi terlahir kembali seperti bayi yang baru lahir dalam keadaan fitrah di hari yang disebut Idil fitri (arab. Kembali dalam keadaan suci). Seperti inilah Ramadan yang dihadirkan dan dihadiahkan untuk umat islam sebagai wadah untuk berbenah. Bonus untuk setiap umat. Tempat istirahat untuk mengistirahatkan hati dari segala hiruk pikuk dunia.

 

Ramadan yang setiap hadirnya selalu membawa kebaikan bagi setiap makhluk. Kondisi alam yang mengahangatkan setiap sudut. Budaya yang menghibur setiap rindu. Serta pribadi manusia pun yang menyejukkan setiap mata. Seketika ingin hal hal yang baik dan penuh kebaikan. Seperti inilah tramadan bulan yang penuh dengan kebaikan. Setiap insan merindukan kebaikan dan ingin menjadi baik. Maka kata Ustad Adi tidaklah heran ketika awal Ramadan akan memenuhi hampir setiap masid yang ada di sekitar kita. Sebab itulah salah satu pengaruh atau nikmat kebaikan yang hadir di setiap insan yang dipengaruhi dengan datangnya bulan Ramadan.

 

Ibarat seorang sholeh yang penuh kebaikan dan menyejukkan dan kita mualiakan untuk setiap ilmu serta adabanya. Seketika kita yang bertemu pun akan ikut terpengaruh dengan hal-hal yang baik. Bahkan tidak jarang meski tidak sempta bertemu dan hanya mengingatnya meski lewat foto dan audio, kita pun akan terpanggil untuk mengingat setiap pesan kebaikan darinya. Seperti inilah bulan Ramadan yang mulia, menjadi satu bulan terpilih dan utama dari sebelas bulan lainnya. Layaknya hari jum’at yang menjadi raja hari-hari lainnya. hari yang dipilih dari eanm hari lainnya dalam sepekan.

 

Bulan Ramadan yang mendjadi bulan bonus untuk meraih serta memanen setiap pahala. Di dalamnya terdapat pelipat gandaan pahala. Sebagaimana di luar Ramadan yang mendapatkan satu pahala atau satu kebaikan maka jika dilakukan di bulan Ramadan akan berliapat ganda menjadi serratus bahkan seribu kebaikan sebagai ganjaran atas kebaikan yang kita kerjakan. Mulianya Ramadan menjadikan kita sebagia makhluk yang lemah ini seharusnya membutuhkan bulan Ramadan.

 

Iya butuh, dan sangat butuh akan Ramadan. Kapan lagi dan dimana lagi kita akan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Kapan lagi dosa-dosa kita bisa dimpuni dengan penuh rahmat. Kapan lagi kita memenen pahala untuk setap kebaikan. Kita sangat membutuhkan Ramadan. Tidak heran dan sangat beruntungnglah ketika seseorang yang meninggal setelah bulan Ramadan dimana sebelumnya ia mengisi Ramadan dengan penuh kesungguhan utuk mendapatkan ampunan dan rahmat, serta memanen pahala. Dihapuskan setiap kesalahan yang telah menumpuk sebelum Ramadan. Dan belum sempat melakukan kesalahan setelah terlahir kembali dalam keadaan fitrah di hari fitri. Rabbanaa, laaa tuaakhiznaa in nassiinaa au akhto’naa . Teringat do’a Nabi yang diwahyukan dalam al-Qur’anul karim yang memohon untuk terhindar, agar tidak diambil nyawa untuk bepulang ke ramhamatullah dalam keadan salah, lalai, atau sedang berdosa. Maka tidaklah salah jika kita menjadikan Ramadan yang kita temui adalah Ramadan terkahir kita, agar bersiap untuk segala kemungkinan jika kita benar-benar tidak akan bertemunya lagi dalam keadaan sehat wal afiat seperti hari ini.

Nikmatnya keadaan itu. maka sadarilah bahwa kita memang sangat membutuhkan Ramadan. Para salafus solih yang tidak jauh dari keberadaan kita khususnya para ulama selalu mengkhususkan bulan Ramadan sebegai bulan untuk beristirahat dari segala hal duniawi. mereka yang setiap hari menghabisan waktunya untuk berdagang akan libur berdagang pada bulan Ramadan. Meraka yang setiap harinya dijadikan sebagai mata pencaharian bertani, berburu dan bertukang, maka akan meliburkan setiap aktifias tersebut untuk kemudian fokus beribadah di bulan Ramadan. Mereka ingin istirahat dari segala hal duniawi. Mereka tidak ingin melewatkan dan menyia-nyiakan bulan untuk memanen rahmat, pahala serta ampunan dari pemilik semesta.

 

Kita yang pastinya jauh dari keimanan para ulama. Kita yang pastinya bergelimang dosa hingga seringnya tidak menyadari dan menganggap setiap hal dosa menjadi biasa. Mari berdoa untuk diberi hidayah serta dimudahkan dan digerakkan hati kita untuk terus melakukan kebaikan dan berusaha menjadi lebih baik. Mereka yang kita kenal sebagai ulama. Jika dipandang akan menyejukkan mata. Jika didengar akan membimbing dan mengarahkan ke hal yang baik. Layak menjadi panutan yang nyata dan dekat. Sepatutnyalah untuk belajar dan meneladani para ulama. Tidaklah salah untuk sekedar memuliakan tanpa harus mengkultuskan panutan. Daripada bertahan dengan kebodohan dan hal yang mebuat kita  congkak untuk bermaslas-malasan. Kesempatan hadir dan bertemu dengan blulan ramadan adalah rezeki agung dan merugi untuk dilewatkan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...