Satu bulan yang telah dipilih oleh yang Maha penyayang
sebagai bulan yang penuh ampunan. Berapa dan bagaimana pun dosa serorang hamba ketika
mendapatkan ampunan niscaya akan dihapuskan seadil-adilnya. Bahkan bisa jadi
terlahir kembali seperti bayi yang baru lahir dalam keadaan fitrah di hari yang
disebut Idil fitri (arab. Kembali dalam keadaan suci). Seperti inilah Ramadan yang
dihadirkan dan dihadiahkan untuk umat islam sebagai wadah untuk berbenah. Bonus
untuk setiap umat. Tempat istirahat untuk mengistirahatkan hati dari segala
hiruk pikuk dunia.
Ramadan yang setiap hadirnya selalu membawa kebaikan bagi
setiap makhluk. Kondisi alam yang mengahangatkan setiap sudut. Budaya yang
menghibur setiap rindu. Serta pribadi manusia pun yang menyejukkan setiap mata.
Seketika ingin hal hal yang baik dan penuh kebaikan. Seperti inilah tramadan bulan
yang penuh dengan kebaikan. Setiap insan merindukan kebaikan dan ingin menjadi
baik. Maka kata Ustad Adi tidaklah heran ketika awal Ramadan akan memenuhi hampir
setiap masid yang ada di sekitar kita. Sebab itulah salah satu pengaruh atau
nikmat kebaikan yang hadir di setiap insan yang dipengaruhi dengan datangnya bulan
Ramadan.
Ibarat seorang sholeh yang penuh kebaikan dan menyejukkan dan
kita mualiakan untuk setiap ilmu serta adabanya. Seketika kita yang bertemu pun
akan ikut terpengaruh dengan hal-hal yang baik. Bahkan tidak jarang meski tidak
sempta bertemu dan hanya mengingatnya meski lewat foto dan audio, kita pun akan
terpanggil untuk mengingat setiap pesan kebaikan darinya. Seperti inilah bulan Ramadan
yang mulia, menjadi satu bulan terpilih dan utama dari sebelas bulan lainnya. Layaknya
hari jum’at yang menjadi raja hari-hari lainnya. hari yang dipilih dari eanm
hari lainnya dalam sepekan.
Bulan Ramadan yang mendjadi bulan bonus untuk meraih serta memanen
setiap pahala. Di dalamnya terdapat pelipat gandaan pahala. Sebagaimana di luar
Ramadan yang mendapatkan satu pahala atau satu kebaikan maka jika dilakukan di
bulan Ramadan akan berliapat ganda menjadi serratus bahkan seribu kebaikan
sebagai ganjaran atas kebaikan yang kita kerjakan. Mulianya Ramadan menjadikan kita
sebagia makhluk yang lemah ini seharusnya membutuhkan bulan Ramadan.
Iya butuh, dan sangat butuh akan Ramadan. Kapan lagi dan
dimana lagi kita akan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Kapan lagi
dosa-dosa kita bisa dimpuni dengan penuh rahmat. Kapan lagi kita memenen pahala
untuk setap kebaikan. Kita sangat membutuhkan Ramadan. Tidak heran dan sangat
beruntungnglah ketika seseorang yang meninggal setelah bulan Ramadan dimana
sebelumnya ia mengisi Ramadan dengan penuh kesungguhan utuk mendapatkan ampunan
dan rahmat, serta memanen pahala. Dihapuskan setiap kesalahan yang telah
menumpuk sebelum Ramadan. Dan belum sempat melakukan kesalahan setelah terlahir
kembali dalam keadaan fitrah di hari fitri. Rabbanaa, laaa tuaakhiznaa in nassiinaa
au akhto’naa . Teringat do’a Nabi yang diwahyukan dalam al-Qur’anul karim yang
memohon untuk terhindar, agar tidak diambil nyawa untuk bepulang ke
ramhamatullah dalam keadan salah, lalai, atau sedang berdosa. Maka tidaklah salah
jika kita menjadikan Ramadan yang kita temui adalah Ramadan terkahir kita, agar
bersiap untuk segala kemungkinan jika kita benar-benar tidak akan bertemunya
lagi dalam keadaan sehat wal afiat seperti hari ini.
Nikmatnya keadaan itu. maka sadarilah bahwa kita memang
sangat membutuhkan Ramadan. Para salafus solih yang tidak jauh dari keberadaan
kita khususnya para ulama selalu mengkhususkan bulan Ramadan sebegai bulan untuk
beristirahat dari segala hal duniawi. mereka yang setiap hari menghabisan
waktunya untuk berdagang akan libur berdagang pada bulan Ramadan. Meraka yang
setiap harinya dijadikan sebagai mata pencaharian bertani, berburu dan bertukang,
maka akan meliburkan setiap aktifias tersebut untuk kemudian fokus beribadah di
bulan Ramadan. Mereka ingin istirahat dari segala hal duniawi. Mereka tidak
ingin melewatkan dan menyia-nyiakan bulan untuk memanen rahmat, pahala serta ampunan
dari pemilik semesta.
Kita yang pastinya jauh dari keimanan para ulama. Kita yang
pastinya bergelimang dosa hingga seringnya tidak menyadari dan menganggap setiap
hal dosa menjadi biasa. Mari berdoa untuk diberi hidayah serta dimudahkan dan
digerakkan hati kita untuk terus melakukan kebaikan dan berusaha menjadi lebih
baik. Mereka yang kita kenal sebagai ulama. Jika dipandang akan menyejukkan mata.
Jika didengar akan membimbing dan mengarahkan ke hal yang baik. Layak menjadi panutan
yang nyata dan dekat. Sepatutnyalah untuk belajar dan meneladani para ulama. Tidaklah
salah untuk sekedar memuliakan tanpa harus mengkultuskan panutan. Daripada bertahan
dengan kebodohan dan hal yang mebuat kita congkak untuk bermaslas-malasan. Kesempatan hadir
dan bertemu dengan blulan ramadan adalah rezeki agung dan merugi untuk
dilewatkan.
Komentar
Posting Komentar