Langsung ke konten utama

Serba Serbi Tarawih

 

‎Suasana ramadan yg terasa begitu cepat berlalu 10 hari pertama yg membuat diri ini bersyukur dan sedih juga tersadar ramadan semakin dekat untuk pergi.

‎suasana ramadan malam hari yg selalu dirindukan dari jauh terngiang suara ustad Adi Hidayat dalam ceramahnya yg menyampaikan bahwa pshiyam ibadah untuk siang hari dan qiyam ibadah untuk malam hari. seperti itulah yg menjadi salah satu motivasi mengapa harus melaksanakan shalat tarawih.

‎tarawih selalu membuat pertanyaan di kepalaku. seperti ada hal yg harus dibenarkan dan dicarikan pembenaran. tapi kembali lagi ke hakikat tarwih dan sejarahnya bahwa Rasulullah menyempatkan diri untuk meninggalkan atau sengaja tidak datang ke masjid untuk melaksanakan shalat tarawih dikarenakan khawatir jika hal ini menjadi wajib bagi umatnya. seperti itulah Rasulullah yg penuh cinta kepada umatnya tak ingin memberatkan umatnya dan memikirkan selalu nasib umatnya.

‎hari ini adalah kali pertama saya berkunjung ke desa tempat sepupu saya tinggal dikarenakan situasi transit untuk melakukan perjalan ke tempat tugas. desa yg terletak kurang lebih 300 km dari ibu kota Sulawesi Tengah. tepatnya tiga kabupaten yg terlewatkan untuk sampai di daerah ini.

alhamdulillah tsumma alhamdulillah adalah rumah ini terletak sangat dekat dengan masjid. situasi atau Suasana ramadan menjadi semakin semarak bagiku. hanya dengan melangkahkan kaki tak hitung menit sudah dapat berjamaah di masjid Alhamdulillah.

‎selanjutnya yg menarik bagiku malam ini adalah suasana tarwih yg sedikit berbeda dengan beberapa tempat yg ku singgahi shalat sebelumnya bukan hanya tentang rakaat. tapi lebih ke tradisi.

‎bagiku shalat delapan rakaat adalah hal yg sangat biasa.  namun, ketika shalat delapan rakaat yg dilaksanakan di desa dengan menghilangkan pelaksanakan shalat 20 rakaat bagiku masih lah tabu. entah karna situasi jamaah yg sudah mendapat pencerahan atau memang hal tersebut yg paling disukai. tapi saya bukan tidak setuju dengan hal ini. bahkan saya sangat suka dengan delapan rakaat yg dilaksanakan dengan santai dan pasti disenangi jamaah . bacaan imam yg lumayan fasih dengan jumlah rakaat yg lebih sedikit (8 rakaat) serta bacaan surah pendek yg sangat ringan sehingga sebelum jam 9 jamaah tarwih sudah bubar dari masjid.

yg paling cocok bagiku adalah tanpa mengurangi atau menghilangkan wirid yg keu kukenal kental di wilayah Sulawesi Tengah. meski ada beberapa shalawat yg diwiridkan berjamaah setelah melaksanakan shalat tarwih yg membuatku penasaran dan harus mendengar dengan jelas bacaan apa yg mereka wiridkan

‎tpi sangat bersyukur adalah doa doa umum tetap dibacakan berjamaah seperti doa setelah shalat tarwih dan witir juga wirid diantara shalat tarwih. sebab ada juga shalat yg di laksanakan di salah satu masjid yg memang berjudul salah satu ormas melaksanakan shalat delapan rakaat serta witir tanpa wirid dan doa. saya mengerti itu adalah bagian dari manhaj yg mereka anut namun tidak pas saja bagi saya yg hidup di kalangan keluarga dan lingkungan yg penuh dengan tradisi serta sengaja diiriskan atau dibenturkan dengan agama.

‎itu hanya pendapat dan asumsi saya pastinya. tapi satu hal yg sebenarnya ingin saya sampaikan adalah bacaan imam yg sedikit menggangu. bukan hanya sekedar masalah tahsin tapi pilihan pembacaan surah pendek yg kurang beraturan. bisa jadi menurut mereka ini bukan bagian dari syariat atau hukum yg harus diperhatikan meski saya pun sebenarnya dan pastinya tidak ahli tapi pernah dengar saja bahwa pembacaan surah pendek harus menyesuaikan dengan urutan dalam alQuran. bukan harus berurutan juga sih. tapi setidaknya tidak seenaknya habis ambil surah paling depan terus baca surah paling belakang terus baca lagi surah paling tengah kemudian ambil lagi surah paling depan. hanya sedikit koreksi yg juga harus diperhatikan sih bahwa Islam itu mudah dan ringan tapi tidak juga seenaknya seperti tidak mau tahu karna Allah Maha Tahu.

‎Alhamdulilah ada juga bahkan tidak sedikit masjid yg saya suka. fasih bacaan imamnya . pemilihan surah ringan dan berurutan. rakaatnya bahkan tidak sedikit. serta wirid dan doanya panjang nan khusyuk. hanya untuk motivasi dan harapan semoga kita sebagai umat senantiasa menjadi pembelajar untuk lebih baik tanpa tapi.

‎demikian sedikit pendapat yg ingin saya ceritakan dalam kisah pengalaman yg sangat minim. bukan untuk menyalahkan siapapun yg melaksanakan shalat tapi hanya sedikit pendapat yg mungkin bisa jadi perhatian untuk perbaikan bukan untuk merasa paling benar atau mencari pembenaran.

‎tidak ada yg perlu disalahkan dengan segala perbedaan yg ada. yg perlu didoakan adalah mereka yg tidak melaksanakan shalat dan sangat merugi dengan kesia-siaan yg telah dianugerahkan serta dilimpahkan di bulan penuh Rahmat dan kemuliaan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nikmah

Jum'at pagi September 2003, saya diajak teman meminta izin keluar pondok untuk membeli dan meminjam perlengkapan pentas seni yang akan dilaksanakan pekan depan. Saya yang tidak terbiasa keluar pondok sendiri, karena harus dan selalu dijemput orangtua atau kakak. Terjadilah gejolak dalam hati yang kemudian membuatku bimbang harus bagaimana. Di satu sisi saya berpikir bahwa hal ini adalah bagian dari tanggung jawab ku, sedangkan di sisi lainnya saya juga khawatir karena belum sempat pamit minta izin ke  orangtua kandungku. Entah bagaimana baiknya. Saya pun sudah menyampaikan kekhawatiran saya kepada teman-teman bahwa bisa jadi orangtuaku akan datang hari ini. Namun mereka pun dengan sedikit memaksa sampai membujuk ku hingga saya pun ikut pergi dengan mereka. Akhirnya saya pun memutuskan untuk pergi bersama mereka yang rencananya ketika sudah sampai di rumah teman baru memberi kabar kepada orang tuaku. Kami keluar pondok bersama setelah meminta izin ke bagian Pengasuhan santri. Sepert...

Teman tapi manja

 Senyum tulus terukir di wajahnya ketika membayangkan wajah seorang santriwati berkata jangan lupa bawa oleole dengan gaya bercanda. Ingatan tersebut kemudian mendorongnya untuk meminta kakaknya berhenti di salah satu toko campuran dalam perjalanan balik ke pondok. Sebungkus tas belanja yang berisi beberapa jajanan ringan akhirnya selesai juga ia penuhi.  Ia yang baru saja naik ke kelas V TMI setelah menyelesaikan pendidikan di kelas III at-taksifi, kemudian bergabung dengan kelas reguler yang disatukan dalam satu kelas menjadikan kehidupannya di pondok makin berwarna. Membangun keakraban dengan teman-teman yang jumlahnya lebih banyak dari kelas sebelumnya dengan beragam karakteristik. Khususnya bertemu dengan para santriwati yang tergolong supel dan humoris. Dengan alasan mengantarkan pesanan teman, ia berhasil meminta piket jaga untuk meneruskan bungkusan belanja tersebut kepada seorang santriwati sekelasnya yang bertugas menjadi pengurus syirkah (Koperasi). Dari balik dindi...

Biru 2

 Setalah sekian hari makin akrab. Kami pun selalu bercerita saling tukar pikiran atau sekedar saling curhat. Dari situlah aku sering merasa terkejut dan terkagum kagum dengan ceritanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sangat sederhana sekali. Ayahnya seorang pekebun dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka bersaudara enam orang. Tinggal di daerah transmigrasi.  Umurnya hanya kakak satu tahun dari ku. Menurutku kita sebaya meski aku menyebutnya dengan panggilan kakak. Namun sekedar menelisik atau kembali berpikir ke masa lalu. Dimana saat kecil rasanya aku selalu manja dan mengeluh apalagi soal makanan. Pilah pilih dan makan nasi serta lumayan sering juga makan di luar atau di restoran.  Ia menceritakan bahwa untuk perihal makan nasi saja itu sudah sangat mewah bagi mereka. Kadang mereka harus antri makan setelah ayah nya makan kemudian mereka bersaudara pun makan dengan berbagi. Adapun ibu mereka entah sudah makan atau belum sering berbohong agar anak-anak ny...